Tradisi Parappo, Navigasi Cultural Pelaut Barrang Lompo

Oleh: Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, dan Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan)

Makassar, NusantaraInsight — Pisang dua sisir, lilin merah, dan dua batang hio ditaruh tepat di dekat kemudi KM Rinjani Jaya. Rasa ingin tahu, membuat saya mencermati jenis pisangnya: Pisang Ambon (Unti Bulerang), dan Pisang Kepok (Untuk Bainang).

“Habis ki ini selamatan?” tanya saya kepada Hj. Jani.

“Iye, sudah naik dok. Dicat ki kapalnya, makanya dibaca-bacai,” jawab ibu berusia 50 tahun itu, sambil berkomunikasi dengan suaminya, H. Abdul Gaffar, 60 tahun.

Tadi, ketika masih berada di Dermaga Kayu Bangkoa, saya sempat memperhatikan, lambung kapal yang tampaknya baru selesai dicat dengan warna putih kombinasi biru dan merah bata itu. Saya mengira, kapal naik dok untuk perbaikan. Ternyata cuma dicat sendiri oleh mereka.

Hj. Jani, yang selalu mengenakan cipok-cipok, terlihat gesit. Cipok-cipok merupakan kudung atau penutup kepala khas perempuan Makassar (dan Bugis) yang sudah menunaikan ibadah haji.

Hj. Jani mengatur, mengorganisir, dan memberi komando. Ia bagai dirigen yang mengorkestrasi pelayaran kami pagi itu, Kamis, 23 April 2026. Kami ke Barrang Lompo untuk melakukan transect walk, sebagai rangkaian kegiatan PARKIR Makassar.

BACA JUGA:  Dr H Syahriar Tato dan Komunitas Makkareso (Makassar Creative Society)

Saya sudah beberapa kali menumpangi KM Rinjani Jaya, setiap kali berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa, di Jalan Pasar Ikan, Kota Makassar, untuk ke Pulau Barrang Lompo.

Kali ini, saya bersama rombongan ke pulau yang berjarak sekira 13 km dari Makassar itu, dalam rangka kegiatan PARKIR (Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi), yang diadakan WRI Indonesia atas dukungan UKPACT.

KM Rinjani Jaya, merupakan milik pasangan Hj. Jani-H. Gaffar. Nama kapal dengan panjang 25 meter dan lebar lebih 3 meter ini diambil dari namanya, Hajah Rinjani. Umur kapalnya sudah hampir 9 tahun. Makanya dilakukan maintenance, biar terlihat segar Kembali.

“Hanya pisang dikasikan ki. Kalau baru mau melaut, selamatannya dengan umba-umba,” lanjut Hj. Jani dalam logat Makassar.

Sarat Makna Simbolik

Umba-umba yang disebut Hj. Jani, adalah nama lain onde-onde atau klepon. Bentuknya yang bulat melambangkan harmoni, sementara rasa manis gula merah di dalamnya bermakna harapan akan hidup yang penuh rezeki dan kebahagiaan.

BACA JUGA:  Hardiknas di Tengah Polemik: Ketika Prodi Pendidikan Dipertanyakan

Pisang yang banyak digunakan dalam berbagai olahan penganan, secara simbolik melambangkan kesuburan, kesejarahteraan, keberlanjutan hidup, dan keberkahan.

Sementara lilin merah, yang dalam masyarakat Makassar disebut tai bani, melambangkan penerang dan suluh kehidupan. Lilin dari sarang lebah ini sering digunakan dalam tradisi dan ritual masyarakat Makassar, seperti appasili dan lain-lain.