Hardiknas di Tengah Polemik: Ketika Prodi Pendidikan Dipertanyakan

Oleh : Fatimah Milda Nurul Insan
Peserta PIMNAS ke-37 di Unair Surabaya

NusantaraInsight, Makassar — Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional, mengenang jasa Ki Hajar Dewantara yang meletakkan dasar pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia.

Namun ironisnya, di tengah semangat tersebut, arah kebijakan pendidikan hari ini justru berpotensi menjauh dari nilai yang beliau perjuangkan.

Salah satu narasi yang mengemuka dari pemangku kebijakan adalah anggapan bahwa program studi pendidikan tidak lagi relevan dengan kebutuhan masa depan, bahkan dianggap berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran.

Pandangan ini terdengar logis di permukaan, tetapi menyimpan persoalan mendasar: penyederhanaan masalah yang kompleks.

Mengaitkan pengangguran lulusan pendidikan semata-mata pada keberadaan program studinya adalah cara pandang yang problematik.

Persoalan sesungguhnya terletak pada kegagalan sistem dalam merencanakan kebutuhan tenaga pendidik, distribusi guru yang timpang, serta minimnya inovasi dalam kurikulum pendidikan itu sendiri.

Menghapus atau mengurangi prodi pendidikan tanpa membenahi akar masalah hanya akan memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya.

BACA JUGA:  Lahan Contoh Penghijauan di Kec. Parado Bima (3): Bisa Jadi Pelajaran Hidup Bagi Warga

Lebih jauh, anggapan bahwa prodi pendidikan tidak relevan dengan masa depan juga patut dipertanyakan.

Di tengah disrupsi teknologi, justru kebutuhan akan pendidik yang adaptif, kreatif, dan mampu membimbing generasi muda semakin besar.

Pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan fondasi dari seluruh sektor pembangunan. Tanpa guru, tidak akan lahir tenaga profesional di bidang apa pun.

Jika orientasi kebijakan hanya berfokus pada serapan kerja jangka pendek, maka pendidikan berisiko direduksi menjadi sekadar mesin pencetak tenaga kerja.

Padahal, esensi pendidikan jauh lebih luas: membentuk karakter, membangun nalar kritis, dan menyiapkan manusia untuk menghadapi ketidakpastian masa depan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki arah, bukan justru membenarkan kebijakan yang berpotensi melemahkan fondasi pendidikan itu sendiri.

Semangat Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan harus berpihak pada kemanusiaan, bukan semata pada kepentingan pasar.

Dengan demikian, yang dibutuhkan hari ini bukanlah penghapusan program studi pendidikan, melainkan keberanian untuk membenahi sistem secara menyeluruh.

Tanpa itu, kita bukan sedang mempersiapkan masa depan pendidikan melainkan perlahan mengabaikannya. ***