NusantaraInsight, Makassar — Proses pembentukan karakter bangsa dan negeri ini telah melewati proses yang sangatlah panjang dan pastilah berliku liku karena tidaklah melulu melalui jalan yang bagus, lancar dan mulus tetapi banyak pula didominasi oleh jalan yang berhalang rintang, penuh onak dan duri bahkan ranjau hidup yang telah menempa Republik ini menikmati pengalaman dan tantangan hidup yang teramat berat, pernah terluka dan larut kedalam kedukaan yang mewarnai perjalanan bangsa ini. Sejarah pun tidak hanya mencatat bahwa perjuangan yang dimotori para pahlawan dan pejuang bangsa tidak hanya melawan para kolonial yang ingin menjadikan bumi pertiwi ini sebagai sapi perahan dan lokus didalam meningkatkan taraf hidup bangsa kolonial tersebut tetapi lembar demi lembar arsip yang ada di negeri ini telah menyajikan informasi bahwa sangatlah sering republik Indonesia ataupun didalam negeri yang kita cintai ini terjadi case internal yang berimplikasi besar dan dapat berakibat fatal terhadap stabilitas bangsa, salah satunya adalah disharmonisasi yang melibatkan para buruh yang sering terlupakan.
Dalam narasi besar pembangunan dan kemajuan bangsa, teramatlah sering kita terjebak pada angka-angka yang memperlihatkan kejelasan numerical yang menonjolkan pertumbuhan ekonomi dan statistik infrastruktur yang ter release secara sempurna melalui media sosial yang saat ini telah menjadi sarana informasi komunikasi mendewakan piranti digital yang tanpa sekat sedikitpun dapat menunjukkan secara gamblang apa yang telah dilakukan, kemajuan yang diperlihatkan dari a hingga z yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat (user media sosial) dimanapun mereka berada walau terkadang kemajuan yang ditunjukkan itu masih bersifat seolah-olah.
Di balik kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era millenial yang telah melewati kemegahan gedung pencakar langit dan deru sibuk mesin-mesin industri, ada tiga pilar yang eksistensinya tak diragukan lagi walaupun sampai saat ini masih berjalan sendiri-sendiri, padahal sejatinya saling bersinergi dan melengkapi, yakni : Buruh, Pendidikan, dan Arsip. Ketiganya adalah mata rantai yang menentukan apakah seorang pekerja akan menjadi subjek yang berdaya guna hebat atau sekadar angka dalam lembar kalkulasi modal yang tanpa daya.
Pendidikan sebagai Fondasi Kesadaran dan Peradaban
Tak dipungkiri bahwa sampai saat ini persoalan buruh di Indonesia sering kali berhulu pada ketimpangan akses dan kualitas pendidikan. Selama ini, pendidikan kita masih terjebak pada pola “mencetak tenaga siap pakai”, bukan “manusia siap berpikir”. Kurikulum diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja jangka pendek yang terkadang mengeleminir cita-cita dan harapan jangka panjang dalam menjaga kebahagiaan diri dan keluarga. Akibatnya, buruh terbentuk menjadi tangan-tangan yang terampil, namun sering kali tak mengetahui hak-hak dasarnya sendiri padahal ada arsip yang membentuk dan melindungi antara lain : Surat Keputusan (SK) Pengangkatan, Daftar Gaji/Upah, Sertifikat Kompetensi dan lainnya.
Diawal kemerdekaan, disaat Negeri berjuluk Nusantara ini dinahkodai oleh Dwi Tunggal Soekarno Hatta, buruh pun mendapatkan tempat yang terhormat dalam hati sanubari bangsa. Hal inipun sangat beralasan karena ada kesadaran bangsa saat itu bahwa buruh merupakan pejuang yang turut memiliki andil besar dalam pembangunan negeri dan peradaban bangsa ini. Buruh pun berkontribusi didalam meningkatkan kualitas perekenomian bangsa walau terkadang tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kesejahteraan dan taraf ekonomi mereka yang terkadang terstagnanisasi oleh hal hal yang jauh dari kelogisan serta cenderung mengiconkan buruh sebagai pemberontak padahal sesungguhnya buruh menunjukkan sebuah karakter dari bangsa pejuang yang tidak ingin terjajah oleh stigma negatif terhadap kerja kerja mereka yang luar biasa didalam menjaga kestabilan roda pembangunan agar tidak berhenti ditengah jalan.













