Oleh: Rusdin Tompo (Penikmat Kopi, dan Koordiantor SATUPENA Sulawesi Selatan)
NusantaraInsight, Makassar — Seorang teman memberi alasan, mengapa ruang tamunya hanya berukuran kecil. Sebab, katanya, kebanyakan ia tak lagi bertemu teman-teman dan mitranya di rumahnya, melainkan di warkop.
Ruang tamu rumah lebih untuk menjamu keluarga, itupun baru ramai saat Lebaran atau acara tertentu.
Percakapan saya dengan seorang teman, beberapa tahun lalu ini, ada benarnya. Saya pun, setiap kali bikin janji, selalu warkop menjadi pilihan tempatnya.
Warung kopi, kedai, kafe, dan semacamnya jadi ruang sosial untuk membangun relasi, merawat jejaring, atau bersilaturahmi dengan kawan karib.
Jadinya, ke warkop bukan sekadar untuk ngopi, ia adalah workingspace, gaya hidup, dan titik kumpul bagi masyarakat urban.
*Ragam Alasan*
Memilih warkop tertentu saat bikin janji, bisa punya banyak alasan. Tak selalu karena cita rasa kopinya yang acidity, body, aftertaste, balance, clean, atau beraroma. Namun, untuk saya, umumnya karena alasan lokasi.
Warkop di Makassar terserak di seantero kota, sehingga kita leluasa memilih warkop mana dan di mana mau bertemu.
Di Makassar yang kian macet, mesti cermat memilih tempat janjian. Kita mesti punya sedikit gambaran tentang peta dan suasana kota.
Pasalnya, pada waktu-waktu tertentu, ada kawasan yang macet parah. Ada pula untuk ke tempat yang akan dituju, kita dipaksa harus memutar jauh karena jalannya satu arah.
Semua itu perlu pertimbangan agar tidak merepotkan orang yang janjian dengan kita. Apalagi bila orang tersebut menggunakan mobil. Faktor tempat parkir kendaraannya juga perlu diperhitungkan.
Maka–biar demokratis–biasanya saya akan bertanya posisinya, baru kemudian menentukan warkop yang kira-kira posisinya berada agak di tengah. Supaya masing-masing dari kami sama-sama bergerak ke warkop tersebut, dari arah yang berbeda.
Pilihan suasana warkop bisa juga jadi alternatif, apabila ada hal tertentu yang mau dibincangkan. Mungkin bahasannya rada serius, jadi butuh tempat yang tenang.
Biar pembicaraan tidak terinterupsi dan terdistorsi oleh obrolan orang-orang di sebelah meja kita.
Menariknya, bila orang yang bikin janji itu mewanti-wanti sejak awal: tidak banyak padominya atau perokoknya? Hehehe
*Warkop Ramah Pengunjung*
Setiap warkop, kedai, dan kafe punya segmennya, punya kelasnya masing-masing, dan ada komunitasnya yang terbentuk secara organik. Bermula dari sesekali janjian di suatu warkop, akhirnya keseringan dan keterusan di situ.
Konon, katanya, ada beberapa figur dan tokoh di Makassar yang mampu membuat suatu warkop menjadi ramai. Padahal mereka bukan influencer atau buzzer, dan tidak dalam posisi melakukan promosi.













