Hikmatillah, Datang dengan Prasangka, Pulang dengan Pelajaran

_By Rahman Rumaday_
Founder K-apel & Kampus Lorong K-apel

NusantaraInsight, Makassar — “Pernah tidak… kita datang ke sebuah tempat dengan bayangan tertentu tentang seseorang, lalu pulang dengan cara pandang yang benar-benar berbeda?”

Kalau malam itu saya memilih langsung pulang, mungkin saya tidak akan belajar apa-apa. Tapi bukankah hidup sering berubah hanya karena satu keputusan sederhana : *”iya, saya datang.”*

Hari itu sebenarnya biasa saja atau setidaknya, saya mengira begitu.

Jum’at, 10 April 2026. Sejak pagi hingga sore, saya menghabiskan waktu di Kafe Baca. Menepi, menyelesaikan sejumlah tugas yang sejak lama menunggu dibereskan. Waktu berjalan tanpa permisi, hingga adzan Ashar datang seperti ketukan lembut yaitu
*_”Hei, jangan lupa pulang sejenak kepada-Nya.”_*

Saya menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas ke masjid yang masih berada dalam kompleks yang sama. Ada jeda yang terasa sakral berhenti sejenak dari dunia, untuk kembali mengingat pusatnya.

Seusai shalat Ashar, saya kembali ke Kafe Baca, mengambil tas, lalu melanjutkan perjalanan menuju sebuah coffee & resto di kawasan Topaz Panakkukang. Ada tanggung jawab organisasi yang menunggu rapat yang tak bisa ditunda.sebagai ketua bidang disalah satu bidang di tingkat wilayah Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Ngopi di Festival Literasi Sulawesi Selatan 2025

Rapat berlangsung cukup panjang, dari pukul 16.15 hingga menjelang malam, sekitar pukul 19.30. Selama itu, dunia terasa mengecil. Hanya ada ide, gagasan, dan arah gerak organisasi.

Barulah setelah rapat selesai, saat hendak melangkah ke masjid yang letaknya tak jauh dari resto untuk menunaikan shalat Isya, saya membuka ponsel. Sebuah pesan masuk :

“Ayo dek, kalau tidak ada agenda, merapat kesini kita ngopi sama Bu Ila HCO Tonasa di Mall Ratu Indah…”

Saya tersenyum kecil.
Dalam hati sempat bertanya, “Pulang saja… atau mampir ya?”

Namun entah kenapa, jari saya lebih dulu menjawab:
“Insya Allah kak, saya ke sana, tapi setelah shalat Isya dulu.”

Kadang, keputusan kecil justru membuka pintu yang besar.

Seusai shalat, saya berangkat. Seperti biasa, ditemani seorang adik ideologis yang selalu siap tanpa banyak tanya. Hanya ada satu kata ketika permintaan itu datang dari saya yaitu *siap jalan.*

Di perjalanan, pikiran saya mulai bekerja.

Di sana bukan hanya Kak Heni, tapi juga seorang perempuan yang disebut dalam pesan tadi Bu Ila, seorang Manager Human Capital Officer di PT Semen Tonasa. yang sebelumnya menjabat sebagai Manager Humas/Communication & PR di PT semen Tonasa

BACA JUGA:  INDONESIA, TEMPAT PALING AMAN JIKA PECAH PERANG DUNIA KETIGA

Dalam bayangan saya, tentu sosoknya rapi, berkelas, dan mungkin… berjarak.