Bu Ila juga mengajak melihat tubuh dengan cara yang berbeda.
Terkadang kita flu atau sakit apalah gitu kita biasa langsung panik… Dan terburu-buru mencari obat atau langsung ke rumah sakit.
Padahal kita bisa mengobati diri kita sendiri dengan menyapa tubuh kita dan menghadirkan Allah…
Ibu Ila kemudian mengatakan bahwa dalam diri kita ada air, udara, dan angin yang bekerja atas izin Allah. Dan kadang, kesembuhan bukan hanya soal obat, tapi bagaimana kita menyapa diri sendiri.
*”Kirimkan salam… bacakan Al-Fatihah untuk tubuhmu,”* ujarnya.
Ada ketenangan dalam kalimat itu.
Seolah tubuh ini bukan sebatas raga, tapi amanah yang perlu diajak bicara.
Dalam konteks pekerjaan, ibu Ila bilang begini :
*_”Kalau ada masalah, jangan dilihat dari bawah. Angkat pikiranmu ke atas.”_*
Karena jika kita terus melihat dari bawah, masalah akan tampak lebih besar dari kita.
Padahal, kita punya Allah Yang Maha Besar. *Maka menengadah bukan sebatas gerakan fisik, tapi sikap batin.*
Hari itu, saya melihat sesuatu yang jarang saya temukan yakni kedalaman tanpa perlu ditampilkan.
Seorang perempuan dengan kesederhanaan, penampilan seadanya namun dengan keluasan berpikir dan kekuatan keyakinan.
Pengetahuannya begitu dalam wawasannya luas termasuk wawasan tentang sejarah malam itu ibu Ila sempat bercerita tentang kahar Muzakkar, tentang bagaimana seorang Jenderal M Yusuf…
Barangkali benar, bahwa nama adalah doa.
Dan nama yang dimiliki pemberian orang tuanya yaitu Hikmatillah yang artinya Ilmu atau pemahaman yang bersumber dari Allah mengenai hakikat sesuatu.
Nama tersebut *seakan hidup dalam cara ia berpikir dan bertutur.*
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
*_”Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat.”_* ~ Hadits
Malam itu, saya datang dengan prasangka.
Dan pulang dengan pelajaran.
Bahwa jabatan tidak selalu menentukan kedalaman jiwa.
Bahwa kesederhanaan seringkali menjadi pintu kebijaksanaan.
Di ujung perenungan, saya teringat ungkapan Jalaluddin Rumi : *_”Lukamu adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu.”_*
Barangkali hidup ini bukan tentang menghindari luka,
melainkan bagaimana kita memaknai setiap retaknya.
Karena perjalanan sejati bukan dari satu tempat ke tempat lain,
melainkan dari diri yang penuh prasangka…
menuju hati yang lapang menerima.
Dan mungkin, seperti malam itu
Tuhan tidak hanya mempertemukan kita dengan seseorang,
tetapi sedang mempertemukan kita…
dengan versi diri yang lebih jernih.
_Parang Tambung, 21 April 2026 | 00.56_













