“Pesan ki’ pak… mau ki’ minum apa?” ucapnya hangat.
Bukan basa-basi. Bukan formalitas.
Saya sedikit kikuk.
“Teh tarik saja Bu.”
“Sekalian makan ki’ pak,” tambahnya ringan.
“Jangan mi Bu, masih kenyang,” jawab saya sambil tersenyum.
Dalam hati saya berkata, “Ini orang tidak seperti yang saya bayangkan…”
Percakapan pun mengalir.
Saya lebih banyak diam, menyimak, dan memungut serpihan-serpihan hikmah dari pengalaman hidup yang ia bagikan.
Tentang kekuatan pikiran.
Tentang bagaimana manusia seringkali bukan dikalahkan oleh masalah, tapi oleh cara ia memandang masalah.
Ibu Ila berkata, kepercayaan diri sering runtuh bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena dua hal yaitu *rasa malu dan pengalaman dipermalukan.
” Ah… Nanti saya salah,
Saya pernah diketawain gara-gara saya salah..”
Dua luka yang tak terlihat, namun diam-diam mengikat langkah.
Bu Ila juga berbicara tentang trauma. Bahwa luka batin tidak disembuhkan dengan lari, tetapi dengan mengubah cara kita berdoa bukan sebatas ucapan, tapi kesadaran yang utuh.
*”Ikhlas itu,”* katanya pelan,
*”sudah pasti sabar. Tapi sabar, belum tentu ikhlas.”*
Kalimat sederhana, tapi dalam.
Seolah mengingatkan bahwa tidak semua diam adalah penerimaan, dan tidak semua bertahan adalah kerelaan.
Tentang kezaliman, Bu Ila memberi perspektif berbeda:
*_”Tidak perlu dibalas. Tidak perlu diumbar. Lepaskan saja… tanpa syarat. Biar semesta yang bekerja.”_*
Saya terdiam.
Bukan karena tidak setuju, tapi karena sadar tidak semua orang mampu sampai pada titik itu.
Bu Ila juga mengajak melihat tubuh dengan cara yang berbeda.
Terkadang kita flu atau sakit apalah gitu kita biasa langsung panik… Dan terburu-buru mencari obat atau langsung ke rumah sakit.
Padahal kita bisa mengobati diri kita sendiri dengan menyapa tubuh kita dan menghadirkan Allah…
Ibu Ila kemudian mengatakan bahwa dalam diri kita ada air, udara, dan angin yang bekerja atas izin Allah. Dan kadang, kesembuhan bukan hanya soal obat, tapi bagaimana kita menyapa diri sendiri.
*”Kirimkan salam… bacakan Al-Fatihah untuk tubuhmu,”* ujarnya.
Ada ketenangan dalam kalimat itu.
Seolah tubuh ini bukan sebatas raga, tapi amanah yang perlu diajak bicara.
Dalam konteks pekerjaan, ibu Ila bilang begini :
*_”Kalau ada masalah, jangan dilihat dari bawah. Angkat pikiranmu ke atas.”_*
Karena jika kita terus melihat dari bawah, masalah akan tampak lebih besar dari kita.
Padahal, kita punya Allah Yang Maha Besar. *Maka menengadah bukan sebatas gerakan fisik, tapi sikap batin.*
Hari itu, saya melihat sesuatu yang jarang saya temukan yakni kedalaman tanpa perlu ditampilkan.
Seorang perempuan dengan kesederhanaan, penampilan seadanya namun dengan keluasan berpikir dan kekuatan keyakinan.
Pengetahuannya begitu dalam wawasannya luas termasuk wawasan tentang sejarah malam itu ibu Ila sempat bercerita tentang kahar Muzakkar, tentang bagaimana seorang Jenderal M Yusuf…
Barangkali benar, bahwa nama adalah doa.
Dan nama yang dimiliki pemberian orang tuanya yaitu Hikmatillah yang artinya Ilmu atau pemahaman yang bersumber dari Allah mengenai hakikat sesuatu.
Nama tersebut *seakan hidup dalam cara ia berpikir dan bertutur.*
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
*_”Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat.”_* ~ Hadits
Malam itu, saya datang dengan prasangka.
Dan pulang dengan pelajaran.
Bahwa jabatan tidak selalu menentukan kedalaman jiwa.
Bahwa kesederhanaan seringkali menjadi pintu kebijaksanaan.
Di ujung perenungan, saya teringat ungkapan Jalaluddin Rumi : *_”Lukamu adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu.”_*












