Sementara saya? Hanya celana jins, kaos oblong, dan ransel penampilan sehari-hari.
Bayangan klise pun bermunculan yakni sosok penting, aura formal, tipe orang yang harus diajak bicara dengan penuh kehati-hatian.
Saya tersenyum sendiri.
“Siap-siap saja, jangan sampai salah ngomong.”
Sesampainya di Mall Ratu Indah, saya sempat merasa canggung. Tempat seperti ini bukan habitat saya. Saya lebih akrab dengan warung kopi pinggir jalan atau sudut kota tempat obrolan terasa lebih jujur daripada tampilannya.
Saya menelepon Kak Heni.
“Di mana kak?”
“Di Kopi …….x, lantai 1 dek…sini ki’,”
Saya berjalan pelan, memperhatikan sekitar. Ramai. Riuh. Tapi entah kenapa, saya merasa seperti sedang mencari sesuatu yang tak terlihat.
Dan akhirnya, saya melihat mereka.
Kak Heni…. dan seorang ibu yang duduk santai di saling berhadapan.
“Itu pasti Bu Illah,” batin saya.
Saya mendekat. Menyalam. Duduk.
Dan dalam hitungan detik… semua bayangan saya runtuh.
Tidak ada kesan “wah.”
Tidak ada jarak.
Tidak ada formalitas berlebihan.
Yang ada justru kesederhanaan.
“Pesan ki’ pak… mau ki’ minum apa?” ucapnya hangat.
Bukan basa-basi. Bukan formalitas.
Saya sedikit kikuk.
“Teh tarik saja Bu.”
“Sekalian makan ki’ pak,” tambahnya ringan.
“Jangan mi Bu, masih kenyang,” jawab saya sambil tersenyum.
Dalam hati saya berkata, “Ini orang tidak seperti yang saya bayangkan…”
Percakapan pun mengalir.
Saya lebih banyak diam, menyimak, dan memungut serpihan-serpihan hikmah dari pengalaman hidup yang ia bagikan.
Tentang kekuatan pikiran.
Tentang bagaimana manusia seringkali bukan dikalahkan oleh masalah, tapi oleh cara ia memandang masalah.
Ibu Ila berkata, kepercayaan diri sering runtuh bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena dua hal yaitu *rasa malu dan pengalaman dipermalukan.
” Ah… Nanti saya salah,
Saya pernah diketawain gara-gara saya salah..”
Dua luka yang tak terlihat, namun diam-diam mengikat langkah.
Bu Ila juga berbicara tentang trauma. Bahwa luka batin tidak disembuhkan dengan lari, tetapi dengan mengubah cara kita berdoa bukan sebatas ucapan, tapi kesadaran yang utuh.
*”Ikhlas itu,”* katanya pelan,
*”sudah pasti sabar. Tapi sabar, belum tentu ikhlas.”*
Kalimat sederhana, tapi dalam.
Seolah mengingatkan bahwa tidak semua diam adalah penerimaan, dan tidak semua bertahan adalah kerelaan.
Tentang kezaliman, Bu Ila memberi perspektif berbeda:
*_”Tidak perlu dibalas. Tidak perlu diumbar. Lepaskan saja… tanpa syarat. Biar semesta yang bekerja.”_*
Saya terdiam.
Bukan karena tidak setuju, tapi karena sadar tidak semua orang mampu sampai pada titik itu.













