Pria yang suka mengenakan kopiah haji, dengan rambut dan kumis yang sudah memutih itu, bercerita rata-rata ia mengangkut penumpang 50-an orang sekali jalan. Terkadang malah hanya 20-an orang. Bila Ramadhan, apalagi Lebaran, penumpangnya membeludak, bisa sampai lebih 100 penumpang.
Selain orang, KM Rinjani Jaya juga mengangkut barang dan kendaraan bermotor. Sepeda motor ditempatkan di bagian haluan kapal, jumlahnya bisa mencapai 12-15 sepeda motor. Kapalnya ini, katanya, sanggup memuat hingga 20 ton!
“Rata-rata orang pulau yang membawa motor, karena banyak anak yang bersekolah dan kuliah di Makassar,” terang H. Gaffar.
Duduk di kamar juru mudi, bukan saja membuat saya bisa melihat Jamaluddin bekerja menyetir kapalnya, dengan terus memperhatikan hamparan laut di depannya. Namun, dengan begitu, saya juga bisa mengajak lelaki berusia 35 tahun itu ngobrol seputar pengalamannya sebagai juru mudi.
Menurut pengakuannya, dia mengemudikan kapal sejak punya anak pertama, yakni di tahun 2009.
Sebelum itu, KM Rinjani Jaya dikemudikan teman bapaknya. Namun, karena faktor usia, matanya sudah kurang bagus melihat, lalu diganti. Teman bapaknya itu, masih terus membantu mereka sebagai ABK yang mengatur penempatan barang, dan menerima kiriman paket untuk diteruskan kepada pemiliknya.
Ketika dari jauh saya melihat kapal dan perahu-perahu nelayan berlabuh di sekitar Dermaga Pulau Barrang Lompo, saya berkomentar, “Banyak sekali perahunya warga di’.”
“Itu sudah kurang mi. Tadi sudah ada 10 kapal ke Banjarmasin. Butuh perjalanan 3 hari ke sana. Nanti 50 hari baru mereka kembali. Mereka pergi mencari teripang,” jelas Jamal.
Dia kemudian mengenang masa kanak-kanaknya, ketika masih duduk di bangku SD kelas 5. Dia mengaku, pernah ikut mencari teripang hingga ke Balikpapan. Sebagai pataripang—begitu sebutan warga bagi nelayan pencari teripang—terkadang ia ikut kapal keluarga, atau kapal milik orang, tergantung dari aktivitasnya. Setelah tak lagi sebagai pataripang, dia pun aktif di kapal milik keluarganya ini.
BBM Tak Ramah Lingkungan
Kecepatan KM Rinjani Jaya melaju antara 7-9 knot. Kapal kayu ini berbahan bakar solar. Sehari menghabiskan satu jerigen, berisi 33 liter. Diakui oleh Jamal, agak susah untuk membeli bahan bakar solar karena harus punya surat-surat kelayakan berlayar dari Dinas Perhubungan.
“Beli solar, kadang di kota, kadang juga di pulau. Kalau di pulau, harganya Rp8.500/liter. Sedangkan di kota, lebih murah, hanya Rp7.000/liter. Ada langganan, penjual eceran, tinggal pesan saja melalui WA. Kalau di SPBU, harga solar Rp6.000/liter,” papar Jamal, membandingkan harga-harga solar yang biasa ia gunakan.













