Tradisi Parappo, Navigasi Cultural Pelaut Barrang Lompo

Arhan ini teman satu kelompok kami. Selain lelaki yang hobi badminton itu, saya sekelompok pula dengan Bima Cakrawala, Elmita Ayusyifa, dan Mutmainnah. Di kelompok 4 ini, saya fasilitatornya, Bu Stella Hutagalung dari WRI Indonesia membersamai kami selama kegiatan PARKIR di Makassar, yang diadakan selama lima hari, Senin-Jumat, 20-24 April 2026.

Arhan bilang, parappo merupakan komunikasi ritual masyarakat lokal pesisir, yang menggabungkan aspek sosial, budaya, dan religius. Prosesnya dimulai melalui musyawarah pemuka masyarakat setempat, seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, imam masjid, serta Ketua RT dan Ketua RW.

Ritual ini banyak mengelaborasi simbol-simbol berupa sesaji, pakaian adat, dan gerakan tubuh. Ritual ini, kata Arhan, menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Ia menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap laut.

Parappo merupakan budaya bahari, yang hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan cara pemaknaan tertentu tentang pandangan hidup (religi), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi, pengetahuan dan teknologi.

BACA JUGA:  Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto, Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak

Masyarakat pesisir menganggap laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Arhan melanjutkan, tradisi parappo itu berupa menurunkan satu sisir pisang Ambon bersama satu telur di laut, pada pagi atau sore hari, sebelum berangkat ke laut mencari ikan. Kearifan lokal ini merupakan bentuk ekspresi spiritual, sekaligus sebagai media komunikasi menyampaikan nilai, norma, dan pengetahuan kolektif.

“Ritual semacam ini adalah mekanisme sosial yang menjaga kohesi sosial,” tulis Arhan, menyitir Emile Durkheim (2019), yang terkenal sebagai pencetus sosiologi modern.

Bahkan bentuk ritual yang sederhana pun mencerminkan kebutuhan sosial dan spiritual manusia.

Ritual adat parappo yang melibatkan persembahan di pantai untuk mengharapkan berkah laut, merupakan komunikasi simbolik yang memperkuat identitas warga Pulau Barrang Lompo sebagai masyarakat pesisir dengan tradisi bahari yang kental.

Ritual pesisir ini memiliki fungsi edukatif karena menjadi sarana pewarisan nilai ekologis, moral, dan spiritual kepada generasi berikutnya. Melalui komunikasi ritual, masyarakt peisisr menanamkan etika berlaut, rasa hormat terhadap alam, serta keyakinan pada kekuatan transendental.

BACA JUGA:  Inovasi penting dalam Sukan Sepak Takraw

Kita bisa memahami bila masyarakat Pulau Barrang Lompo yang sebagian besar mencari nafkah sebagai nelayan, dan menggantungkan hidupnya dari laut, terus mempertahankan tradisi ini, sebagaimana ditunjukkan pasangan H. Gaffar-Hj. Jani, dan keluarga.

Keluarga Pelaut

Bagi masyarakat Pulau Barrang Lompo, ritual-ritual kelautan seperti parappo punya peran penting, tidak hanya sebagai bentuk spiritualitas dan religiositas, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial, regulasi perilaku komunal, dan transmisi pengetahuan lokal tentang musim tangkap, tempat mencari ikan, serta praktik konservasi tradisional.
Angin, arus, gelombang, dan ombak, menjadi pengetahuan dasar mereka.

Tradisi bahari ini bagai navigasi kultural yang memberi arah bagi masyarakat Barrang Lompo dalam menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan atau pelaut.

Hj. Jani asli orang Pulau Barrang Lompo, sedangkan suaminya, H. Gaffar, asal Bonto Rannu, Mariso, yang keluarganya banyak tinggal di Pantai Tanjung Bayang, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Pasangan keluarga pelaut ini, pernah punya 3 kapal, di mana 2 kapal dipakai menangkap teripang. Namun, diakui bahwa tidak mudah untuk perawatan dan biaya operasionl kapal penangkap teripang.