Tradisi Parappo, Navigasi Cultural Pelaut Barrang Lompo

Dupa berupa batang lidi hio, atau dalam bahasa Mandarin disebut Xiang, oleh masyarakat Makassar, bermakna sakral sebagai sarana perantara spiritual, penghormatan kepada leluhur, serta simbol doa dan penyucian.

Tampaknya, Hj. Jani dan keluarga masih berpegang teguh pada tradisi dan budaya Makassar yang kuat. Ada semacam energi yang ia peroleh dari sana. Terpancar dari semangatnya pagi itu, yang bergerak dari satu sisi kapal ke bagian kapal lainnya.

Arhan, warga Pulau Barrang Lompo, yang melihat saya berada di ruang juru mudi, mengatakan bahwa skripsinya membahas tentang tradisi pa’rappo atau parappo.

Judul lengkap skripsnya “Komunikasi Ritual Masyarakat Lokal Pesisir dalam Tradisi Parappo di Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar. Skripsi tahun2026 itu, dibuat guna merampungkag kuliahnya pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar.

Arhan ini teman satu kelompok kami. Selain lelaki yang hobi badminton itu, saya sekelompok pula dengan Bima Cakrawala, Elmita Ayusyifa, dan Mutmainnah. Di kelompok 4 ini, saya fasilitatornya, Bu Stella Hutagalung dari WRI Indonesia membersamai kami selama kegiatan PARKIR di Makassar, yang diadakan selama lima hari, Senin-Jumat, 20-24 April 2026.

BACA JUGA:  Gaya Politik Alam Kubur

Arhan bilang, parappo merupakan komunikasi ritual masyarakat lokal pesisir, yang menggabungkan aspek sosial, budaya, dan religius. Prosesnya dimulai melalui musyawarah pemuka masyarakat setempat, seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, imam masjid, serta Ketua RT dan Ketua RW.

Ritual ini banyak mengelaborasi simbol-simbol berupa sesaji, pakaian adat, dan gerakan tubuh. Ritual ini, kata Arhan, menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Ia menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap laut.

Parappo merupakan budaya bahari, yang hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan cara pemaknaan tertentu tentang pandangan hidup (religi), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi, pengetahuan dan teknologi.

Masyarakat pesisir menganggap laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Arhan melanjutkan, tradisi parappo itu berupa menurunkan satu sisir pisang Ambon bersama satu telur di laut, pada pagi atau sore hari, sebelum berangkat ke laut mencari ikan. Kearifan lokal ini merupakan bentuk ekspresi spiritual, sekaligus sebagai media komunikasi menyampaikan nilai, norma, dan pengetahuan kolektif.