Tradisi Parappo, Navigasi Cultural Pelaut Barrang Lompo

“Ritual semacam ini adalah mekanisme sosial yang menjaga kohesi sosial,” tulis Arhan, menyitir Emile Durkheim (2019), yang terkenal sebagai pencetus sosiologi modern.

Bahkan bentuk ritual yang sederhana pun mencerminkan kebutuhan sosial dan spiritual manusia.

Ritual adat parappo yang melibatkan persembahan di pantai untuk mengharapkan berkah laut, merupakan komunikasi simbolik yang memperkuat identitas warga Pulau Barrang Lompo sebagai masyarakat pesisir dengan tradisi bahari yang kental.

Ritual pesisir ini memiliki fungsi edukatif karena menjadi sarana pewarisan nilai ekologis, moral, dan spiritual kepada generasi berikutnya. Melalui komunikasi ritual, masyarakt peisisr menanamkan etika berlaut, rasa hormat terhadap alam, serta keyakinan pada kekuatan transendental.

Kita bisa memahami bila masyarakat Pulau Barrang Lompo yang sebagian besar mencari nafkah sebagai nelayan, dan menggantungkan hidupnya dari laut, terus mempertahankan tradisi ini, sebagaimana ditunjukkan pasangan H. Gaffar-Hj. Jani, dan keluarga.

Keluarga Pelaut

Bagi masyarakat Pulau Barrang Lompo, ritual-ritual kelautan seperti parappo punya peran penting, tidak hanya sebagai bentuk spiritualitas dan religiositas, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial, regulasi perilaku komunal, dan transmisi pengetahuan lokal tentang musim tangkap, tempat mencari ikan, serta praktik konservasi tradisional.
Angin, arus, gelombang, dan ombak, menjadi pengetahuan dasar mereka.

BACA JUGA:  CALEG DI BULAN PUASA

Tradisi bahari ini bagai navigasi kultural yang memberi arah bagi masyarakat Barrang Lompo dalam menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan atau pelaut.

Hj. Jani asli orang Pulau Barrang Lompo, sedangkan suaminya, H. Gaffar, asal Bonto Rannu, Mariso, yang keluarganya banyak tinggal di Pantai Tanjung Bayang, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Pasangan keluarga pelaut ini, pernah punya 3 kapal, di mana 2 kapal dipakai menangkap teripang. Namun, diakui bahwa tidak mudah untuk perawatan dan biaya operasionl kapal penangkap teripang.

“Setengah mati urus ki,” kata H. Gaffar singkat, dalam obrolan kami suatu hari di awal Maret 2026.

Sebelum punya kapal sendiri, ia bekerja sebagai buruh harian, dan pernah pula mencari nafkah sebagai tukang batu.

H. Gaffar dan Hj. Jani, dikaruniai 7 anak, terdiri dari 2 laki-laki dan 5 perempuan, yang semuanya sudah berkeluarga. Dua anak lelakinya, Syamsuddin dan Jamaluddin, malah bisa mengemudikan kapal. Mereka bergantian bertugas sebagai juru mudi. Dalam sekali pelayaran, 5 dari 7 anaknya terlibat bekerja. Sehari, KM Rinjani Jaya hanya 2 kali pergi-pulang, kecuali kalau ada carteran.