Bayang-Bayang Kelumpuhan Mengintai Nelayan Pencari Teripang di Barrang Lompo

Oleh: Mutmainnah (Alumni Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas)

Makassar, NusantaraInsight — Bukan bervakansi, perjalanan kami di Barrang Lompo siang itu (23/4/2026) adalah untuk melihat masyarakat mengalami mobilitasnya. Melalui program Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi (PARKIR) Makassar, inisiatif penelitian dan pengarsipan pengetahuan kolaboratif oleh WRI Indonesia.

Bersama Bima, El, Pak Rusdin, dan Kak Stella, kami mengikuti ke mana Arhan selaku warga lokal mengarahkan jalan.

Mengukur kemiringan dan lebar jalan masuk di setiap ruang publik, merasakan kondisi jalan paving block yang tak rata, guiding block putus-putus, dan berbincang bersama masyarakat.

Kami terus berjalan hingga kami melihat seorang pria dengan baju kaos biru berkerah dipadu dengan celana pendek selutut lengkap dengan topi berjalan tertatih-tatih di ujung lapangan paling luas di pulau Barrang Lompo.

Ternyata dia adalah seorang nelayan penyelam pencari teripang penyintas lumpuh ringan. Mendekatlah kami untuk menanyai kesediaannya diwawancara, syukurnya dia mengiyakan dan mengarahkan kami ke rumahnya.

BACA JUGA:  Bang Rusdin Tompo Membawa Beta Pulang ka Maluku

“Kelumpuhan” bagi nelayan tradisional khususnya penyelam pencari teripang di Barrang Lompo bukan sesuatu yang baru.

Di atas balai-balai kolong rumah, Pak Syahril Daeng Mile (36 tahun) dan istrinya, Narti Daeng Tino (28 tahun) bercerita risiko penyelam dengan segala ketidakpastian hasil tangkapan, cuaca, dan keselamatan yang tidak pernah usai di Barrang Lompo.

Syahril menyebutkan satu-satu siapa saja nelayan di pulau itu yang mengalami kelumpuhan, kecelakaan kapal, bahkan meninggal.

“Kemarin dua orang meninggal, padahal kondisi awalnya dia lebih bagus dari saya”, jelasnya. “Kamma minjo punna tattabai”, salah seorang tetangga mengikuti percakapan.

Lima tahun bekerja sebagai nelayan penyelam pencari teripang, membuat tubuhnya harus beradaptasi dengan kompresor dan menyelam sekitar 14 meter atau sekitar satu jam lamanya.

Setiap sekitar 40 hari Syahril mencari teripang di perairan Surabaya tepatnya di pulau Keramaian. Meninggalkan istri yang sedang mengandung, dua anak laki-laki yang masih kelas tiga sekolah dasar dan empat tahun (Takbir dan Akbar), juga neneknya (Dg Baji usia 82 tahun).

BACA JUGA:  Nature vs Nurture: Apa yang membentuk siapa kita ?

Selama itu, Syahril berada di lautan bersama 20 orang nelayan lainnya. Jika beruntung, tangkapan teripang gondrong (Stichopus horrens) bisa mencapai 1 ton yang dihargai Rp500.000/kg.

Hasilnya dibagi 22 dengan persentase berbeda; 20 nelayan, seorang punggawa atau pemilik kapal, juga biaya operasional. Seringnya hasil tangkapan tak mampu menutupi biaya operasional.