Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang, Wujud Filosofi Akbulo Sibatang

Penulis: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Takalar — Begitu memasuki Desa Lantang, kepulan asap tampak menyembul di antara rumah-rumah warga. Suara musik disetel keras, terdengar dari arah berbeda-berbeda. Suasana pesta rakyat begitu terasa.

Desa yang berada di Polongbangkeng Selatan, berjarak sekira 18 km dari ibu kota Kabupaten Takalar ini, memang sedang punya hajatan: Pesta Adat Aklammang.

Bentuk Rasa Syukur

Saya dan istri, Gita Nurul Ramadhani, tiba di Desa Lantang, sekira pukul 10.35 wita. Butuh waktu 1 jam lebih perjalanan dengan sepeda motor Scoopy dari rumah kami di Kompleks Anggrek, Minasa Upa, Makassar.

Kami langsung diajak naik ke rumah panggung (balla rate) oleh Nanda Eka Putri Syamsuddin, yang mengundang kami ke desanya. Rumah bergaya tradisional Makassar itu bercat hijau pucat dengan kosen berwarna cokelat muda.

Bubungan rumah ini berbentuk segi tiga (timbak sela) dengan 3 singkap, bertangga tallu anronna yang diberi kanopi berbahan seng.

Nanda, alumni Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Makassar, itu langsung memperkenalkan saya dan istri kepada bapaknya, Syamsuddin Daeng Ngerang, dan ibunya, Hasna Daeng Kenna.

BACA JUGA:  Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Mengenang Ayahnya. Buku ‘Bunga Rampai Sosiologi’ pada Tahun Kelahiran

Daeng Kenna tengah bersama ibu-ibu yang sedang asyik bekerja memasukkan beras ketan (pulut) ke dalam bambu. Sementara Daeng Ngerang mau mempersiapkan tempat pembakaran lammang.

Saya dan istri menyapa dan menyalami ibu-ibu itu satu demi satu. Mereka semua masih punya hubungan keluarga dengan tuan rumah.

Daeng Kenna menyebut nama ibu-ibu itu, sambil memperkenalkan mereka. Ada yang merupakan tantenya, sepupunya, dan iparnya.

Begitu mendengar ada di antara mereka bernama Daeng Bollo, saya lantas mennyeletuk, “Berarti saya ketemu dua mamaku di sini. Karena nama mamaku Kenna Daeng Bollo.”

Mendengar komentar spontan dari saya, sontak semua tertawa hahaha.

Setelah menaruh tas di pojok dekat pintu kamar, kami dipersilakan duduk lesehan. Selanjutnya, kami bertukar cerita dengan si empunya rumah.

Kopi hangat dan bolu pandan disuguhkan pada kami. Pertemuan pertama ini begitu mengalir, kami ngobrol lepas, bagai orang yang sudah lama saling kenal.

Dari obrolan itu saya tahu bahwa Daeng Ngerang, bekerja sebagai sekuriti di SMA Negeri 8 Takalar. Sedangkan Hasna Daeng Kenna, S.Pd, mengajar sebagai guru di TK Nur Ichsan, di Dusun Kalumbangara. Gelar sarjananya diraih dari Universitas Terbuka (UT).

BACA JUGA:  JANJI KAMPANYE YANG MENYULITKAN PEMERINTAHAN BARU

Pasangan suami istri ini masih merupakan keluarga dekat, masih sepupu dua kali–dalam bahasa Makassar, istilahnya appinduki.