*Ritual Acara di Sungai Lantang*
Saya bangun saat terdengar bunyi masjid. Lamat-lamat tarhim terdengar dari kejauhan, disusul kumandang azan Subuh, dari masjid yang berada di sisi utara dan selatan desa. Masjid Nurul Huda di Dusun Kalumbangara, dan Masjid H. Muhammad Basir di Dusun Borongunti.
Sungguh, suasana tenang begini jarang lagi di dapat. Udara alami yang masuk lewat jendela, yang sengaja dibiarkan terbuka, menambah adem perasaan. Itu mungkin yang membuat tidur saya nyenyak semalaman.
Daeng Kenna sudah sibuk di dapur, begitupun dengan Daeng Ngerang, baru selesai dengan pembakaran lammangnya.
Lammang itu yang jadi salah satu menu sarapan pagi kami, di samping burasa, dan bolu pallu cekla.
Terhidang juga bajabu, yang mirip serundeng. Bajabu terbuat dari kelapa yang dikukur, lalu disangrai dan dicampur bumbu, berupa gula merah, bawang putih, serai, ketumbar, merica, dan asam jawa.
Kami kembali ngobrol sehabis sarapan bersama.
Pesta adat aklammang tidak diketahui, sejak kapan mulai diadakan. Tradisi yang jadi perekat silaturahmi dan penguat solidaritas sosial ini, dilakukan masyarakat Desa Lantang secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Menurut Daeng Kenna, neneknya bercerita bahwa tradisi ini sudah dilakukan sejak lama. Ditarik ke atas, cerita ini diturunkan dari nenek buyutnya, tanpa angka-angka tahun yang pasti. Mungkin sudah lebih ratusan tahun.
Sebagai masyarakat Desa Lantang, mereka tidak tahu sejarah tradisi aklammang. Hanya mitos yang beredar secara lisan dari percakapan warga.
Syahdan, terdapat buaya jelmaan leluhur, yang diakui sebagai patanna Lantang atau patanna pakrasangang (pemilik kampung). Buaya itu merupakan penjaga sungai yang diyakini membantu kesuburan lahan.
Mitos lain, terkait Raja Kare Lantang yang menyamar, ingin merasakan kehidupan rakyat jelata. Kisah itu, kemudian menjadi dasar perayaan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh sebagai bentuk empati dan kebersamaan antara raja dan rakyatnya.
Kare atau Kareng merupakan gelar bangsawan Makassar, di masa lampau, seringkali dianggap pendahulu istilah Karaeng. Kare memimpin wilayah lokal sebelum terbentuknya sistem pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo yang lebih terpusat.
“Menurut sejarahnya, dahulu kampung ini sering didatangi raja. Warga tidak mungkin kasi makanan hanya beralaskan daun pisang. Maka disuguhi makanan dengan aklammang,” begitu versi yang dituturkan Daeng Ngerang.
Untuk melihat lebih dekat seperti apa Sungai Lantang yang jadi lokasi ritual appassorong lammang, Jumat itu, pukul 09.00, saya dan istri ke sana. Kami mengendarai sepeda motor. Agar tidak nyasar, kami bertanya begitu bertemu pertigaan jalan.













