“Kitalah yang mesti terus merawat tradisi ini secara bersama-sama. Kalau bukan kita sendiri sebagai orang Lantang yang menjaganya, siapa lagi?” tandas Daeng Ngerang.
Cara Berbeda, Spirit Tetap Sama
Tiba waktu makan siang, kami diajak menyantap menu yang disediakan tuan rumah. Kembali kami naik ke atas.
Sayur bening, ikan goreng, pallu cekla bolu, dan racak mangga, begitu mengundang selera. Nasi hangat dari beras baru (ase beru) hasil sawah sendiri, bikin makan siang kian lahap.
Sehabis makan, saya mengucapkan terima kasih atas jamuan dan keramahan Daeng Ke’na dan Daeng Ngerang.
Kami lanjut bercerita. Sesekali mata saya memperhatikan ibu-ibu yang sedang ammone lammang.
Tahun ini, Daeng Kenna dan Daeng Ngerang memasak 45 liter beras ketan hitam. Lebih sedikit dibanding tahun lalu, yang mencapai 60 liter.
“Kalau masak 45 liter, bisa untuk 100 potong bambu, tergantung ukuran panjang dan lubang bambunya,” jelas Daeng Kenna.
Beras ketannya dikukus di panci jawa ukuran 10 liter, menggunakan kompor 1000 mata. Kompor berbahan bakar gas itu ditaruh di bagian tengah rumah. Ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu.
Dahulu, tambah Daeng Kenna, beras mentah yang dikasi masuk ke dalam bambu. Cara ini butuh waktu pembakaran lebih lama, bisa 6-7 jam. Buluh bambu dipanggang hingga tampak hangus dan santannya meleleh, karena mendidih.
Sekarang, mereka menggunakan cara sedikit ringkas. Berasnya dikukus terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke buluh bambu untuk dipanggang. Cara ini hanya butuh waktu 4-5 jam. Memasak selama itu, bisa menghabiskan 2 tabung gas 3 kg.
Kata Daeng Ngerang, dengan memasak beras ketannya terlebih dahulu menggunakan kompor gas, bisa menghemat kayu bakar.
Saya perhatikan, saat ibu-ibu ammone lammang, mereka membuat gulungan daun pisang menggunakan pelepah pisang. Lalu perlahan memasukkannya ke dalam bilah bambu, sebagai wadah menaruh beras ketan atau songkolonya.
Saya bertanya kepada Daeng Ngerang, “Apa bedanya kakdok bulo dan lammang?”
“Kakdok bulo itu hasil masak dari lammang. Kakdo dalam bahasa Makassar berarti nasi atau makan. Dilammang berarti dikasi masuk ke dalam bambu. Jadi aklammang itu bisa berarti cara memasak. Selain beras ketan, bisa juga memasukkan ikan atau ayam ke dalam bambu, dan namanya aklammang,” papar Daeng Ngerang.
Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya.
Kami pun bergeser, menuju tempat pembakaran lammang yang berada di belakang rumah. Daeng Ngerang menyampaikan, tahun lalu tempat pembakarannya di samping rumahnya.
Namun kali ini dipindahkan karena pohon rambutan milik saudara istrinya sudah tumbuh besar. Halaman rumah mereka memang tidak berbatas pagar, hanya berupa pohon sebagai penandanya.













