Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang, Wujud Filosofi Akbulo Sibatang

Ketika hari menjelang sore, saya dan istri berjalan melihat-lihat warga setempat yang sibuk aklammang. Di teras-teras rumah, tampak kelompok ibu-ibu memasukkan lammang ke dalam bilah bambu.

Setiap kali melihat ada pembakaran lammang, kami singgah, berbincang sebentar dengan warga.

Kami meminta izin memotret dan memvideokan aktivitas mereka.

Saat melihat tempat pembakaran yang bentuknya besar, kami pun kepo. Daeng Nai, 65 tahun, yang kami tanya, mengaku memasak lammang sebanyak 100 liter, untuk 2 keluarga.

Banyak pula yang memasak lebih dari 100 liter. Namun rerata memasak lammang antara 50-100 liter.

Wadah pembakaran berbentuk segi empat, ada yang dibuat permanen dari besi, yang bila diperlukan tinggal dipasang saja. Terlihat kreativitas warga, baik berupa wadah pembakaran, sumber api, maupun pilihan lokasinya.

Halaman depan, samping, atau belakang rumah, semua dimanfaatkan untuk aklammang. Jangan heran bila melihat asap mengepul di mana-mana, di antara rumah-rumah warga.

Dari interaksi dengan orang-orang yang kami temui, banyak dari mereka yang berasal dari berbagai daerah.

BACA JUGA:  SEMESTA JURNALISME: DARI GUTENBERG HINGGA ZUCKERBERG

Mereka antara lain datang dari Gowa, Pangkep, Makassar, Bulukumba, Maros, bahkan Parepare. Mereka sengaja berkunjung ke Lantang hanya untuk melihat pesta rakyat aklammang.

Saat tiba-tiba turun hujan deras, warga sigap menutup tempat pembakaran lammangnya.

Agar bilah-bilah bambu lammang tidak basah terkena hujan, ada yang menutupnya dengan daun pisang yang disusun di sekeliling tempat pembakaran.

Ada yang menutup dengan menggunakan atap seng. Ada pula yang memakai terpal, yang biasa digunakan sebagai tenda pesta.

Hujan sore itu, baru reda menjelang Magrib.

Akibatnya, banyak warga yang membakar lammang hingga dini hari, termasuk Daeng Ngerang. Lampu dari arah dapur, senter, dan sinar bulan purnama jadi penerangnya.

Terdengar tetangga memutar lagu-lagu penyanyi Ridwan Sau, sebagai hiburan menemani mereka aklammang.

Saya sempat memotret Daeng Ngerang ketika membolak-balik kayu bakar untuk memastikan apinya terus menyala.

“Sudah begitu memang, setiap kali aklammang ki, selalu turun hujan. Kayu jadi basah semua. Na sessaki,” keluh Daeng Ngerang sambil senyum kecut.

BACA JUGA:  Lahan Contoh Penghijauan di Kec. Parado Bima (2): Produksi Meroket, Harga Merosot

*Ritual Acara di Sungai Lantang*

Saya bangun saat terdengar bunyi masjid. Lamat-lamat tarhim terdengar dari kejauhan, disusul kumandang azan Subuh, dari masjid yang berada di sisi utara dan selatan desa. Masjid Nurul Huda di Dusun Kalumbangara, dan Masjid H. Muhammad Basir di Dusun Borongunti.

Sungguh, suasana tenang begini jarang lagi di dapat. Udara alami yang masuk lewat jendela, yang sengaja dibiarkan terbuka, menambah adem perasaan. Itu mungkin yang membuat tidur saya nyenyak semalaman.

Daeng Kenna sudah sibuk di dapur, begitupun dengan Daeng Ngerang, baru selesai dengan pembakaran lammangnya.

Lammang itu yang jadi salah satu menu sarapan pagi kami, di samping burasa, dan bolu pallu cekla.

Terhidang juga bajabu, yang mirip serundeng. Bajabu terbuat dari kelapa yang dikukur, lalu disangrai dan dicampur bumbu, berupa gula merah, bawang putih, serai, ketumbar, merica, dan asam jawa.

Kami kembali ngobrol sehabis sarapan bersama.

Pesta adat aklammang tidak diketahui, sejak kapan mulai diadakan. Tradisi yang jadi perekat silaturahmi dan penguat solidaritas sosial ini, dilakukan masyarakat Desa Lantang secara turun temurun dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:  Petualangan Spiritual Tak Berujung Syahriar Tato

Menurut Daeng Kenna, neneknya bercerita bahwa tradisi ini sudah dilakukan sejak lama. Ditarik ke atas, cerita ini diturunkan dari nenek buyutnya, tanpa angka-angka tahun yang pasti. Mungkin sudah lebih ratusan tahun.