Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang, Wujud Filosofi Akbulo Sibatang

“Acara adat ini memang selalu kami tunggu-tunggu. Kapan ini aklammang? Kalau dekat mi waktunya, kami lalu menelepon keluarga dan kenalan untuk datang ke Lantang,” ungkap Daeng Kenna antusias.

Perempuan 50 tahun, yang semasa gadis pernah bekerja sebagai pramuniaga di Matahari Makassar Mall itu, mengaku pesta adat aklammang lebih ramai dibanding Lebaran. Kalau Lebaran, katanya, kemeriahannya hanya sehari, sementara pesta aklammang ramainya selama 3 hari.

Daeng Kenna menjelaskan, prosesi aklammang dimulai sejak Rabu, diawali dengan pengambilan bambu atau angngalle bulo.

Kemudian, pada hari Kamis dilakukan ammone lammang atau pengisian beras ketan ke dalam bambu yang sudah dipotong dalam ukuran tertentu. Lalu attunu lammang atau membakar lammang hingga matang.

Puncak acara diselenggarakan pada Jumat, disebut appasorong atau mendorong rakit dari batang pohon pisang berbentuk rumah-rumahan berisi lammang di Sungai Lantang.

“Tradisi ini diadakan setiap bulan Mei, tetapi tanggal dan waktu persisnya tidak tentu. Biasanya dibikin setelah panen sebagai bentuk rasa syukur,” kata Daeng Kenna.

BACA JUGA:  AB Iwan Azis Berbagi Kisah Tentang Media dan Wartawan di Masanya

Daeng Ngerang menimpali, di Desa Lantang, para petani panen tiga kali dalam setahun. Namun hanya sekali yang diadakan pestanya. Jadi tradisi aklammang ini merupakan pesta panen, yang dihelat selepas musim hujan.

“Daerah di sini subur. Ada sungai dan pengairan yang bagus. Itu mi bisa tiga kali panen dalam setahun,” ujar Daeng Ngerang, setelah kami berpindah tempat ke bawah rumah (siring balla), dan duduk di balai-balai kayu.

Dikemukakan, para petani di Desa Lantang umumnya punya sawah dan kebun. Pengairannya terjaga baik. Petak-petak sawah menghampar di sisi kiri kanan jalan.

Di beberapa bagian, tumbuh rimbun kebun tebu, rumpun bambu, dan pohon-pohon pisang berdaun lebar.

Itulah mengapa, dusun yang berada di ketinggian ini, diberi nama Dusun Borongunti.

Dahulu, kisah Daeng Ngerang, pohon pisang tumbuh membelukar, saat rumah-rumah warga masih jarang. Pohon-pohon pisang itu masih banyak terlihat, berdiri berkelompok di pinggir jalan atau di samping dan belakang rumah warga.

Filosofi Akbulo Sibatang

Pesta adat aklammang menggambarkan kekayaan alam, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Desa Lantang.

BACA JUGA:  Sinergi Urban Farming & Rumah Pangan Kita (RPK)

Menurut situs Desa Lantang (lantang.desa.id), desa ini berdiri sejak tahun 1988, merupakan pemekaran dari Desa Moncongkomba.

Sejarah desa mencatat, kala itu, desanya punya luas lebih dari 17,22 km persegi, dengan penduduk sebanyak 2.023 jiwa.

Pada awal pemekaran, dusunnya terdiri atas Dusun Toddosila, Dusun Kalumbangara, Dusun Lantang 1, Dusun Lantang 2, dan Dusun Jeknemattalasa.