Dalam perkembangannya, di tahun 2002, terbentuk dua dusun baru, yakni Dusun Bontomanai dan Bontoloe. Pada tahun 2016, terbentuk lagi Dusun Lantang, dan di tahun 2019, terbentuk Dusun Kale Lantang.
Setelah bertambah menjadi 9 dusun, tokoh-tokoh masyarakat setempat bersepakat untuk melakukan pemekaran desa. Kini, desa dengan tradisi kuat itu sudah terbagi dua: Desa Lantang dan Desa Kale Lantang.
Desa yang kami datangi ini adalah Desa Lantang, terdiri dari Dusun Lantang 1, Dusun Lantang, Dusun Kalumbangara, Dusun Borongunti, dan Dusun Toddosila. Luas Desa Lantang, saat ini, kurang lebih 9,12 km persegi, dengan penduduk sebanyak lebih dari 2.239 jiwa.
Saya ke sana pada Kamis, 30 April 2026. Itu artinya, saya tidak menyaksikan prosesi aklammang sejak awal, yang dimulai pada hari Rabu.
“Paling pertama dilakukan itu, ngerang bungasa ke pinati, berupa beras 1 liter, 1 buah kelapa, dan 1 biji telur. Terkadang juga dikasi uang Rp10 ribu, tetapi itu tidak wajib. Ini dibawa 1-2 hari sebelum hari H. Pada hari Rabu,” terang Daeng Ngerang.
Pinati adalah sebutan untuk tokoh adat, yang memiliki peran penting dalam memimpin ritual, mengatur adat istiadat, dan menjaga tradisi dalam komunitas tradisional, khususnya di Sulawesi Selatan.
Pinati aklammang di Desa Lantang adalah Daeng Bau, yang khusus memimpin prosesi aklammang, sebab ada juga pinati untuk prosesi adat lainnya.
Saya meminta ke Daeng Ngerang, apakah ia bisa menunjukkan jenis pohon bambu yang digunakan? Ia lantas mengajak saya ke belakang, melewati samping rumahnya, menuju rumpun bambu miliknya.
Jenis bambu yang dipakai membuat lammang adalah bulo parring (bambu apus/tali), yang punya nama ilmiah Gigantochloa apus.
Tumbuhan ini tumbuh subur di daerah tropis. Biasanya digunakan untuk membuat bahan bangunan rumah, kerajinan kurungan ayam, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Daeng Ngerang lalu menunjuk batang-batang bambu yang menjulang di depannya. Katanya, kalau mengambil bambu, ambil yang usianya sudah 1 tahun.
Jangan terlalu tua, nanti pecah bambunya saat pembakaran. Cirinya, bisa dilihat dari pucuk daun bambu yang mulai mengering kecokelatan.
“Caranya potong bambu setelah ditebang, ambil bagian bawah dari ruasnya, tetapi nanti dibalik saat mengisi songkolo,” jelas Daeng Ngerang memberi petunjuk praktis.
Songkolo adalah sebutan untuk beras ketan yang sudah dikukus. Beras ketan untuk lammang, bisa berupa ketan hitam ataupun ketan putih.
Ayah dua anak yang pernah jadi manajer koperasi di Makassar ini kemudian berbicara lebih serius. Disampaikan bahwa prosesi aklammang ini merupakan wujud dari filosofi akbulo sibatang, yang menggambarkan persatuan, gotong royong, dan semangat bekerja sama.













