Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang, Wujud Filosofi Akbulo Sibatang

Jauh juga rupanya. Mungkin sekira 3 km dari tempat nginap kami.

Tak ada penanda arah ke lokasi acara. Misalnya berupa umbul-umbul atau spanduk. Saya tak menggunakan Google maps, hanya feeling saja. Patokannya, belok kiri setelah jembatan.

Kami melewati jalanan rusak, berbatu dan becek.

Istri saya diboncengan sempat bertanya, “Cocok ji ini?” Saya mengiyakan, dan terus menjalankan kendaraan hati-hati. Dari jauh sudah tampak tenda-tenda berwarna biru milik pedagang.

Setelah tiba, saya memarkir sepeda motor di dekat panggung acara yang beralaskan karpet merah. Kursi-kursi diatur rapi menghadap panggung.

Musik berdentam dari pengeras suara yang dipasang di depan panggung. Lagu dangdut yang disetel terasa memekakkan telinga.

Sebuah spanduk vinyl besar terpampang, sebagai backdrop acara. Tertulis “Pesta Rakyat Adat Lammang 2026”. Penyelenggaranya adalah Karang Taruna Jeknetallasa Desa Lantang dan Karang Taruna Cokoloe Desa Kale Lantang.

Lokasi ini merupakan area permandian dengan spot air terjun yang menarik.

Pada sisi kami berada, terdapat beton tinggi sebagai pembatas ke sungai. Namun dibuatkan anak tangga untuk menuju ke sungai.

BACA JUGA:  Strategi Hamas Mengalahkan Israel di Gaza

Pepohonan rimbun menaungi mereka yang berada di bawahnya. Tampak sejumlah warga mandi menikmati sejuknya air dan indahnya alam.

Sementara di seberang, tidak ada pembatas beton dengan sungai. Alamnya terbuka luas. Di sanalah nanti posisi pinati saat memimpin ritual appassorong.

Di dekat permandian air terjun, yang jadi lokasi acara, terdapat saukang, yakni tempat yang dikeramatkan. Saukang ini merupakan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan.

Ternyata, warga tak hanya datang untuk mandi, sekadar berekreasi. Karena air Sungai Lantang juga dianggap dapat memberi berkah. Tidak mengherankan bila banyak yang datang hanya untuk mencuci muka, mengharapkan keberkahan.

Daeng Ngai, 40 tahun, malah mengambil air sungai yang ditaruh di dalam bekas botol air kemasan untuk dibawa pulang.

“Kalau ada yang sakit-sakitan, bisa dikasi air ini,” katanya sambil beranjak pergi, tanpa memberi tahu, apakah airnya diminum, atau diapakan.

Saya kemudian mengalihkan perhatian kepada para pedagang. Saya menghampiri Rahmatia Daeng Ngai, warga Palleko, pemililk Warung Jajanan Rahmah.

Wanita berusia 45 tahun, yang biasanya berjualan di Pasar Palleko itu, mengaku bisa meraup pendapatan lebih 1 juta bila ada pesta adat aklammang.

BACA JUGA:  Janjian Bertemu di Warkop

Pedagang lainnya, Daeng Baji, asal Bila Cakdi, sudah lebih belasan tahun berjualan di lokasi acara adat aklammang ini. Pengakuan yang sama juga datang dari Daeng Ngotta, yang menjual telur asin.