Hingga satu hari itu datang, “Pertamana kejadiang pa’risi-pa’risiki ri barambang rong, nampa turun ke kaki nyut-nyut sampai tidak terasa. Sampai bengkak akhirnya sampai seperti ini jadinya. Lama-lama di bawa tidak terasami.”
Begitulah Syahril membagikan kronologi awal kelumpuhan menimpanya, sambil sesekali mengelus kaki kirinya yang berwarna hitam.
Dalam satu hari itu Syahril harus menerima kenyataan pahit atas kelumpuhan yang dialaminya terhitung sudah 11 hari lamanya.
Syahril adalah satu contoh dari banyaknya nelayan penyelam pencari teripang dengan penggunaan kompresor di Barrang Lompo.
Mereka mengetahui resikonya tapi tak pernah menemukan solusi mitigasinya. Bahkan setelah kejadian, penanganannya tidak menempuh jalur medis.
Mereka hanya mandi air laut setiap pagi, berjalan kaki, dan mengoleskan abu jerami setiap dua kali sehari untuk mengempeskan bengkak.
Air kram, begitu penyakit lumpuh ini dikenal di masyarakat. Atas beberapa kasus penanganan penyakit lumpuh menempuh jalur rumah sakit lalu berujung kematian, berkembang menjadi momok secara organik dan masif.
Rumah sakit membuat mereka hanya berbaring dan disuntik berbeda jika tetap di pulau mereka bebas berjalan. Hal ini mempengaruhi para nelayan, lebih memilih pengobatan alternatif non medis.
Hanya perawat puskesmas Barrang Lompo yang menangani melalui kunjungan langsung ke rumah.
Ibu Junaedah (40), seorang perawat yang kami temui di Puskesmas Barrang Lompo mengatakan bahwa, “Kalau di Barrang Lompo banyak yang lumpuh karena menyelam, kita kunjungi ke rumahnya. Ada telfon home care 112”.
Tapi bagaimana penanganan penyakit dengan kondisi darurat dan mengharuskan di rujuk ke rumah sakit besar di kota Makassar?
Junaedah menambahkan, “Pasien yang harus ke Makassar bergantung waktu, kalau pagi bisa menggunakan kapal penumpang. Jika sudah siang dengan kondisi darurat, jolloro’ adalah satu-satunya pilihan.:
Ditambahkan, ambulance laut ada tapi kalau orang tua susah naiknya karena terlalu tinggi. Apalagi ambulance lautnya di parkir di laut, kalau ada pasien baru ke dermaga.
Itu juga butuh bahan bakar yang banyak bahkan dengan bantuan uang patungan pedagang tidak mencukupi. Jadi kendaraan pribadi jolloro’ dipakai karena bahan bakarnya sedikit.
Ambulance laut juga tak pernah digunakan pegawai puskesmas melakukan kunjungan ke setiap pustu di beberapa pulau di Kecamatan Sangkarrang seperti Barrang Caddi, Langkai, Lumu-Lumu, dan Bone Tambung.
Mereka lebih memilih menyewa kapal. Ambulance laut tinggal terparkir di tengah laut dekat dermaga baru.













