Destinasi Budaya Makassar “Balla Barakka” Galesong

Ibrahim Pratama, S.E.,M.Si.,Ak.,CA (Sekjen MPP ADPERTISI/Presidium MD KAHMI Takalar)

Takalar, NusantaraInsight — Balla Barakka di Galesong itu menarik karena ia mencoba menjawab satu masalah klasik pariwisata budaya di Makassar: banyak tempat wisata fokus ke kuliner dan pantai, tapi sedikit yang benar-benar menghadirkan “rumah” sebagai ruang hidup budaya.

Balla” dalam bahasa Makassar artinya rumah. Balla Barakka tidak dibangun seperti museum kaku. Ia menghadirkan rumah adat Makassar yang masih berfungsi, bukan replika mati.

Itu bikin pengunjung bisa merasakan atmosfer ruang sosial orang Makassar: tamu dihormati, ada ruang passiringang, dan alur aktivitas yang masih mengikuti ritme lokal. Ini beda dengan destinasi yang cuma pamer ornamen.

Galesong punya identitas kuat sebagai wilayah pesisir dengan budaya maritim dan kuliner khas. Memposisikan Balla Barakka di sana artinya destinasi ini bisa jadi jembatan antara wisata pantai dan wisata budaya.

Tantangannya: akses dan promosi. Tanpa narasi yang kuat dan kolaborasi dengan komunitas lokal, ia mudah tenggelam oleh destinasi pantai yang lebih “instagenic”.

BACA JUGA:  Pengabdian itu Menumbuhkan Akar, Menjadi Jiwa

Kalau yang mengelola bukan cuma pengelola wisata, tapi juga tokoh adat, penutur bahasa Makassar, dan pelaku seni lokal, Balla Barakka bisa jadi ruang belajar hidup.

Bukan sekadar foto, tapi pengunjung bisa lihat ma’gandrang, dengar pappasang, dan paham filosofi rumah panggung Makassar. Itu yang bikin wisata budaya punya nilai jangka panjang, bukan tren sesaat.

Banyak destinasi budaya mati karena berubah jadi panggung pertunjukan tanpa konteks. Kuncinya ada di kurasi. Kalau setiap elemen di Balla Barakka bisa dijelaskan maknanya, bukan cuma dipajang, maka ia akan punya daya tarik yang beda dari kafe bertema adat lainnya.

Balla Barakka Galesong punya modal kuat jadi destinasi budaya otentik di Makassar karena ia berangkat dari ruang hidup masyarakat, bukan konsep impor.

Tapi untuk bertahan dan berkembang, ia harus dijaga agar tetap jadi ruang budaya, bukan sekadar spot foto. Kalau itu terjadi, ia bisa jadi rujukan bagaimana wisata budaya di Sulawesi Selatan bisa dibangun dari bawah, bukan dari atas.

BACA JUGA:  Berbincang dengan Kades Kalebentang: SDM RENDAH TAPI SWADAYA MASYARAKAT TINGGI

Sejarah Balla Barakka Galesong milik Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H.
Balla Barakka ri Galesong adalah pusat kebudayaan yang didirikan oleh Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Adat Unhas dan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Makassar.Beliau juga dikenal dengan gelar adat Karaeng Patoto.

Balla Barakka dibangun sebagai bentuk kepedulian Prof. Aminuddin Salle terhadap pelestarian budaya Makassar, khususnya di kampung halamannya Galesong, Takalar.