K-apel ; Muhammad Habibi Gen Z Memilih mengabdi

Oleh: Rahman Rumaday 

NusantaraInsight, Makassar — Beberapa hari lalu, saya menerima sebuah pesan WhatsApp yang sederhana, tetapi entah kenapa terasa begitu menggugah. Pesan itu datang dari Ibu Doktor Vera. Sebagai founder Kampus Lorong K-apel, saya memang cukup sering menerima pesan dari banyak orang-ada yang menawarkan bantuan berupa jadi relawan, ada yang ingin anaknya ikut belajar, ada pula yang sebatas bertanya tentang kegiatan di lorong. Namun pesan dari Ibu Doktor. Vera itu terasa berbeda. Bukan karena bahasanya yang istimewa, justru karena kesederhanaannya.

Jum’at, 8 Mei 2026, sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ibu Doktor Vera yang kebetulan menjadi salah satu pengajar di Kampus Lorong K-apel

“Assalamu alaikum pak, tabe’ mau sekali anakku isi waktunya untuk ajar anak-anak kecil bahasa Inggris. Sudah selesai SMA-nya dan sudah diterima di Unhas kelas internasional, tidak ada kegiatannya sekarang 😄”

Di situ saya tersenyum kecil.

Saya membaca pesan itu perlahan sambil tersenyum kecil. Di zaman hari ini, kalimat seperti itu terasa mulai langka. Banyak orang tua mungkin bangga ketika anaknya diterima di kampus besar, lalu membiarkan masa jeda sebelum kuliah diisi dengan liburan, nongkrong, atau sebatas menikmati waktu santai. Dan itu wajar saja. Anak-anak generasi Z hari ini memang tumbuh di tengah dunia yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Dunia mereka penuh layar, penuh hiburan, penuh tempat pelarian dari rasa bosan.

BACA JUGA:  Visi Misi Penghijauan Tapi Kok Merusak Penghijauan

Ukuran keberhasilan sering dihitung dari seberapa ramai unggahan, seberapa banyak pengikut, atau seberapa sering seseorang tampil di layar. Maka tidak heran jika banyak anak muda akhirnya sibuk mengejar pengakuan, tetapi perlahan kehilangan ruang untuk mengenal makna pengabdian.

Kadang kita melihat anak-anak muda hari ini lebih akrab dengan dunia digital dibanding lingkungan sekitarnya sendiri. Bangun tidur membuka handphone, siang sibuk dengan media sosial, malam larut bersama gim atau tongkrongan. Tidak sedikit yang merasa hidup harus selalu terlihat seru. Seolah-olah waktu kosong harus selalu diisi dengan kesenangan.

Tetapi di tengah arus itu, Ibu Vera justru menghubungi saya untuk menawarkan anaknya datang mengajar anak-anak lorong.

Saya kembali membaca chat itu perlahan. Rasanya seperti sedang mendengar seorang ibu bercerita dengan penuh harap tentang anaknya yang ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Tidak lama kemudian Bu Doktor. Vera kembali mengirim pesan.

“Namanya Habibi.” ~ Katanya di chat itu

Sederhana sekali. Tetapi dari situ saya bisa merasakan kebanggaan seorang ibu saat menyebut nama anaknya.