Lalu beberapa menit setelahnya, masuk lagi pesan yang membuat saya makin tersenyum.
“Habibi mau buat sendiri kurikulumnya 😄’ ~ ucap bu Vera
Saya membayangkan seorang anak muda yang baru saja lulus SMA, diterima di Universitas Hasanuddin, tetapi memilih memikirkan bagaimana menyusun kurikulum sederhana untuk anak-anak kecil di lorong. Ada sesuatu yang terasa teduh dari situ.
Dan pesan terakhir dari Ibu Vera semakin menguatkan kesan itu.
“InsyaAllah jadi Habibi ke kampus lorong besok pak.”
Saya langsung menjawab iya tanpa banyak pertanyaan. Sebab bagi saya, ketika ada anak muda yang masih ingin datang mengabdi, jangan terlalu banyak ditanya. Anak-anak seperti itu harus dijaga semangatnya.
Hari Sabtu, 10 Mei 2026, hujan turun cukup deras di Makassar. Jalanan basah. Langit tampak muram menjelang waktu ashar. Cuaca seperti itu biasanya membuat banyak orang memilih tinggal di rumah. Apalagi anak muda seusia Habibi. Mungkin kebanyakan sedang rebahan sambil bermain handphone, menonton film, atau nongkrong di warkop bersama teman-temannya.
Namun sore itu, Habibi justru menerobos hujan dari Veteran Selatan menuju Lorong Daeng Jakking, Kelurahan Parang Tambung, tempat Kampus Lorong K-apel berada.
Saya masih mengingat kesan itu sampai sekarang. Bukan tentang sejauh apa perjalanan yang ia tempuh, tetapi tentang pilihan yang ia ambil. Sebab di usia seperti Habibi, sangat mudah untuk memilih hidup santai. Sangat mudah untuk berkata, “Nanti saja kalau kuliah sudah mulai.” Tetapi ia memilih datang ke lorong untuk berbagi.
Dan mungkin di situlah letak keindahan anak muda yang masih punya kepedulian. Mereka tidak banyak bicara tentang perubahan. Mereka hanya datang, lalu melakukan sesuatu yang sederhana.
Mahatma Gandhi pernah berkata, _”Cara terbaik untuk menemukan diri sendiri adalah dengan mengabdikan diri untuk melayani orang lain.”_ Saya rasa, tanpa sadar Habibi sedang berjalan ke arah itu.
Di tengah zaman ketika banyak anak muda berlomba ingin dikenal, Habibi justru memilih menjadi berguna. Ia tidak datang membawa pencitraan. Tidak ada kamera yang menyorot langkahnya di tengah hujan. Tidak ada tepuk tangan ketika ia tiba di lorong. Tetapi mungkin memang begitu cara pengabdian bekerja ia tumbuh diam-diam, lalu menghangatkan banyak hati tanpa banyak suara.
Dan sore itu saya kembali percaya, masa depan tidak sepenuhnya suram. Sebab di tengah generasi yang sering dituduh terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, masih ada anak muda seperti Muhammad Habibi yang memilih datang ke lorong kecil untuk berbagi ilmu dan mengabdi.
Nelson Mandela pernah berkata, _”Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.”_ Dan mungkin perubahan besar itu memang selalu dimulai dari hal-hal kecil dari seorang ibu yang menawarkan anaknya untuk mengajar di lorong, lalu dari seorang anak muda yang memilih datang di tengah hujan untuk berbagi ilmu.













