FIKSI MINI (10): Bromocorah vs Koruptor

Oleh Andi Wanua Tangke

Anton. Bukan Anton Chekhov: jurnalis dan sastrawan Rusia yang mahir mengungkap tingkah manusia-manusia munafik di negerinya lewat karya-karya prosanya. Anton di sini adalah Anton bromocorah. Penjahat yang selalu mengulang tingkah banditnya. Anton di sini juga bukan warga negara Rusia, tapi warga negara Indonesia. Negeri kita.

Anton, di negerinya, dikenal penjahat ulung. Dalam melakukan kejahatannya tak gentar membunuh korbannya. Terhitung sudah lebih sepuluh warga kota, tempatnya berkuasa bersama komplotan kriminalnya, dibunuh secara sadis.

Anton berkali-kali merampok. Melukai. Membunuh. Berkali-kali ditangkap pihak kepolisian. Berkali-kali divonis pihak pengadilan. Berkali-kali keluar masuk penjara. Berkali-kali itu tak membuatnya bertobat. Lantaran itu cap bromocorah melekat dalam dirinya yang tubuhnya penuh tato, itu.

Tiga tahun lalu, terjadilah peristiwa itu. Subuh, di sebuah rumah semi permanen di pinggir kota Jakarta. Puluhan polisi datang mengepung Anton yang masih tidur lelap. Anton terjaga. Instingnya paham. Dia sedang dikepung polisi. Seketika bangun dari tidurnya. Mengendap-endap. Menuju jendela samping. Saat melompat ke tanah, dua timah panas telah bersarang di tubuhnya. Anton pun tergelepar. Darah segar muncrat dari dua lubang peluru yang menembus paha dan betisnya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (3): Preman Kota Masuk Desa

Seperti operasi senyap. Seketika Anton diangkat naik ke mobil patroli polisi. Dilarikan ke rumah sakit. Sementara darah berceceran di lokasi penembakan, sejumlah polisi sigap membersihkannya. Tak menyisakan tanda-tanda tragedi penembakan berdarah, subuh itu.

Di rumah sakit Anton berjanji bukan kepada polisi yang terus menjaganya, tapi pada dirinya sendiri: hendak bertobat. Tak lagi ingin mengulang banditnya sebagai bromocorah. Dia rindu citra: mantan bromocorah.

***

Pagi itu di rumah sahabatnya yang juga sudah bercitra mantan bromocorah, Anton menikmati kopi panas sembari menonton berita lewat televisi.

Anton tiba-tiba fokus memerhatikan presenter televisi membacakan sebuah berita terkini. Objek berita itu juga menampilkan tokoh beritanya.

“Kemarin pagi. Tepatnya pukul sepuluh. Koruptor yang terbukti mengambil uang negara miliaran rupiah itu, setelah menjalani hukuman sepuluh tahun, telah dibebaskan. Kini sudah menikmati udara bebas.” Presenter lalu memerlihatkan detik-detik pembebasannya dari penjara. Ribuan pendukung Sang Koruptor atau mantan koruptor berdesakan menyambut idolanya bebas dari penjara.

Sang Koruptor dielu-elukan bak seorang pahlawan yang keluar dari penjara. Ada yang membawa spanduk dengan kalimat: “Selamat datang Pahlawanku!” “Engkau Korban Politik.” “Mari Memimpin Barisan, Memulai Perjuangan Baru.” “Tak ada Kata Menyerah!”