Oleh Andi Wanua Tangke
Damiri, seorang petani miskin. Usianya lima puluh tiga tahun. Tinggal di sebuah desa. Desa Malinrang, namanya. Lokasinya sangat jauh dari kota. Sekitar 90 km dari ibu kota kabupaten. Damiri bukan penduduk asli desa itu. Sejak lelaki berotot dan bertato ini menikah dengan janda satu anak bernama Maemuna, sejak itu dia tinggal di Desa Malinrang. Desa berhawa dingin.
Pada mulanya, Damiri tak punya pekerjaan. Dua bulan setelah menikah, dia ikut bertani bersama mertuanya. Setahun kemudian, hidupnya sudah mandiri. Damiri menggarap sendiri sawah seluas setengah hektar. Kini Damiri tak lagi serumah mertuanya. Bersama istrinya, dia sudah punya rumah sendiri di dekat sawah yang digarapnya. Rumahnya tergolong sederhana.
Ketika Damiri menikah dengan Maemuna: sempat menjadi cerita gosip di Desa Malinrang. Gosip itu meluas lantaran tubuh Damiri berkhiaskan tato. Bagian dada dan kedua lengannya penuh dengan tato.
Gosip itu meluas: menyimpulkan secara sepihak Damiri adalah seorang preman dari kota masuk Desa Malinrang. Puluhan warga desa merasa was-was bila lelaki bertato itu tinggal dan menjadi warga Desa Malinrang.
Suatu malam puluhan warga bertemu di sebuah kedai kopi. Kedai itu terletak tak jauh dari kantor Desa Malinrang. Menjelang tengah malam mereka pun menyimpulkan: kerukunan yang selama ini tercipta di desa ini dapat terusik kalau Damiri menjadi warga Malinrang. “Melihat penampilan Damiri, dia seorang preman. Bila dibiarkan tinggal di desa ini, kerukunan dan kedamaian warga pasti terganggu karena ada pendatang seorang preman.” Seorang warga mengungkapkan simpulannya pada pertemuan malam itu. Puluhan warga itu hendak melaporkan keresahan ini kepada Pak Desa, esok harinya.
Mendapat laporan dari puluhan warga, Pak Desa tidak bereaksi berlebihan. Dia hanya merespon dengan mengangguk pelan sambil berjanji bertemu dengan Damiri.
Pagi, sekitar pukul enam, Pak Desa duduk menikmati kopi gula aren di teras rumahnya. Dia memikirkan datangnya puluhan warga yang menyampaikan kecemasannya akan kehadiran Damiri di desa ini. “Saya memutuskan untuk tidak bertemu dengan Damiri dalam waktu dekat. Saya memilih untuk melacak lebih dalam dan lebih jauh: siapa sebenarnya Damiri, lelaki bertato itu.” Pak Desa bergumam. Tak ada yang mendengar.
***
Pagi-pagi, tiga puluh tiga warga berkumpul di balai desa. Hanya sekitar sepuluh menit warga menunggu, Pak Desa tiba di hadapan warga. “Terima kasih atas kehadirannya di balai desa ini. Saya paham Saudara ingin mengetahui siapa sebenarnya lelaki pendatang dan telah beristri di Desa Malinrang yang bernama Damiri.” Pak Desa menyambut baik kehadiran warga.




