Setiap manusia, kata Pak Desa, tak ada yang sempurna. Semua manusia pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Hanya tingkat kesalahan yang berbeda-beda. “Begitu juga dengan Damiri. Ketika berusia 35 tahun, Damiri pernah bergabung dalam kelompok preman pasar. Dalam perjalanan premannya, dia pernah membunuh seorang saudagar di ibu kota kabupaten. Saat itu Damiri merampok rumah mewah, namun tertangkap tangan oleh pemilik rumah. Di saat-saat menegangkan itu, Damiri balik melawan dan menikam Sang Saudagar hingga tewas.” Puluhan warga di balai desa seketika saling menatap: setelah mendengar informasi sejarah perjalanan hidup Damiri.
Setelah keluar dari penjara, Damiri sadar dan bertobat. Salat lima waktunya selalu berjamaah di masjid. “Saudara-saudara, Damiri benar mantan preman. Kini sudah di jalan yang benar. Lantaran itu, saya memohon kepada seluruh warga Desa Malinrang dapat menerima kehadiran Damiri.” Pak Desa meninggalkan balai desa. Sebagian warga percaya apa yang disampaikan Pak Desa. Sebagian warga merasa: Damiri sulit meninggalkan dunia preman. “Bisa saja, suatu hari nanti, jiwa premannya kambuh lagi,” ujar seorang warga sembari menggigit bibirnya.
***
Damiri terus dihantui penolakan sebagian warga Malinrang. Dia ingin bebas dari tato yang melekat dalam tubuhnya. Berbagai cara tradisional dan medis dipakai untuk menghilangkan, namun belum juga menpan membebaskannya dari tato.
Tato itu membuat Damiri murung. Hidupnya tak bersemangat lagi. Telah kehilangan nafsu makan. Malas turun ke sawah. Tubuhnya: kian hari kian lemah. Suatu hari dia memelototi semua tato itu. Terbayang teman-teman premannya. Memanggil-manggilnya. Damiri tertidur. Pulas. *****




