FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

Oleh Andi Wanua Tangke

  “Iya, betul dia sangat peduli. Setiap kita mau ke pusat kota menuju stasiun, selalu ada nasihatnya: ‘hati-hati di jalan, Nak. Nanti kecopetan, Nak. Banyak pencopet di kota, Nak.’ Begitu nasihat rutinnya. Hampir setiap kita bertemu nenek itu, selalu ada nasihatnya. Namanya siapa, Kak?”

     “Mbah Tukiyem.

Perempuan muda Tuti, akhirnya, menginjakkan kaki di Jakarta. Impiannya itu sudah lama tersimpan rapat dalam benaknya. Sejak masih duduk di SMP. Baginya, tidak masalah, meski hal itu menjadi kenyataan setelah dia menamatkan pendidikannya di SMA di kota Makassar.

Pagi itu sekitar pukul enam. Tuti dijemput di pelabuhan oleh keluarganya yang tinggal di Jakarta. Hanya menempuh perjalan setengah jam. Tuti sudah tiba di rumah keluarganya.

Tuti ke Jakarta bukan untuk mencari pekerjaan. Dia ke ibu kota tujuannya: ingin mengenal lebih dekat kota itu. Dia ingin melihat tempat-tempat bersejarah. Menikmati tempat rekreasi. Merasakan asyiknya berjalan-jalan ke mall. Pusat perbelanjaan megah. Melihat langsung istana yang indah. Tempat presiden menikmati kekuasaan. Dan, tentu saja, memandang gedung-gedung pencakar langit yang mengepung metropolitan.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

Tuti tak bisa terlalu lama di Jakarta. Sebagai anak bungsu dia selalu merindukan ibunya. Begitu juga ibunya selalu merindukannya. Ketika hendak ke Jakarta, ibunya mengizinkan, tetapi tidak boleh terlalu lama. Cukup satu bulan.

Lantaran singkatnya waktu untuk mengenal Jakarta, Tuti fokus memanfaatkan hari-harinya. Seorang sepupunya yang bekerja secara mandiri di rumahnya: memberikan waktu luangnya menemaninya mengunjungi objek-objek menarik di Jakarta.

Tak terasa, Tuti sudah dua minggu di Jakarta. Dia sudah mengunjungi Ancol, Monas, museum, perpustakaan nasional, Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, dan sejumlah mall ternama. Sempat juga pergi ke Taman Mini Indonesia.

Melihat kehidupan di ibu kota, Tuti bertanya dalam hati: apa urusannya semua warga ini. Ramai. Terburu-buru. Panik. Kendaraan saling menyalip. Bunyi kendaraan menderu-deru. Warga memburu bus angkutan kota yang siap berangkat. “Saya tidak bisa tinggal di Jakarta. Tidak tenang. Ya, Jakarta menarik untuk dikunjungi sesaat. Melihat panoramanya. Memang mall dan bangunan-bangunan lainnya menarik untuk dipandang.” Simpulan itu tumbuh dalam pikirannya, tetapi tidak disampaikan ke sepupunya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

Setiap hendak meninggalkan rumah menuju pusat kota, sepupunya selalu berpesan: pegang baik-baik tas dan dompetnya. “Ini ibu kota. Kejam. Lebih kejam dari ibu tiri. Warga saling tak peduli. Banyak orang hidup dari aktivitas haram, misalnya mencopet. Bukan hanya laki-laki mencopet di sini. Perempuan juga. Bahkan nenek-nenek. Kalau di sini dipanggil Mbah. Mereka hidup dari nyopet.” Mendengar cerita itu, Tuti selalu waspada. Memegang erat tas dan dompetnya.