FIKSI MINI (14): Badaru, Gubernur yang Bodoh

Oleh Andi Wanua Tangke

Badaru, mantan gubernur di sebuah negeri. Sepuluh tahun berkuasa. Dua periode. Disenangi rakyatnya. Ada juga rakyat tak menyenanginya. Bila rakyat tak menyenangi kebijakannya itu mengkritiknya, tampillah rakyat yang menyenanginya membelanya mati-matian. Pembelaannya kadang tak memakai akal sehat. Pokoknya mereka bela. Begitu cintanya mereka kepada gubernurnya.

Badaru, gubernur bergaya lugu. Bergaya merakyat. Tapi gaya itu hanya topeng. Gaya itu hanya siasat. Meski demikian, tokoh daerah ini sukses menghinoptis rakyatnya. Terbukti, berhasil membuat banyak rakyat menyenanginya, meski kesenangan itu dinilai oleh pengamat politik sebagai refleksi tak waras. Tak normal. Sesungguhnya, Badaru adalah gubernur otoriter. Dalam keluguannya dia memaksakan kehendaknya. Bila ada segelintir rakyat di provinsi tempatnya berkuasa menghalangi rencana-rencananya, maka Badaru tampil memerlihatkan wataknya yang otoriter itu.

br

Badaru, terbuai dengan kekuasaan. Dia dan keluarganya menikmati candu kekuasaan itu. Suatu hari dia pernah curhat kepada sahabatnya. “Wah, menjadi gubernur itu. Menjadi penguasa itu. Memang enak…” Badaru mengucapkannya sembari mengulum senyumnya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

Andaikan jabatan gubernur tak dibatasi paling lama dua periode, sepuluh tahun, maka Badaru bernafsu ingin memperpanjang kekuasaannya. Betapa enaknya kekuasaan itu baginya. Betapa gurihnya candu kekuasaan itu baginya.

Badaru tak mau tahu Marcos Presiden Filipina, Soeharto Presiden Indonesia, yang hidup dalam kerakusan kekuasaan tak berujung, akhirnya berakhir tragis dengan dipaksanya hengkang dari kursi kekuasaannya. Diburu-diburu oleh bayang-bayang hukum yang akan menjeratnya akibat kekuasaannya yang tak bertepi. Semua itu tak pernah dibayangkannya akan menikamnya. Bagi Badaru, Marcos dan Soeharto manusia bodoh. Lantaran tak tahu mencari penggantinya sebagai penguasa.

Dulu, sebelum datang detik-detik berakhirnya kekuasaannya sebagai gubernur, Badaru sudah memikirkan penggantinya. Baginya hal itu wajib. Terutama, agar kebijakan yang ditinggalkannya, keluarga yang telah dipaksakan menjadi pejabat penting di provinsi itu–kesemuanya lahir dari kontroversial–tetap aman, meski dirinya bukan lagi di kursi kekuasaan.

Sekian tahun kemudian, Badaru sakit. Parah. Ingatannya tak fokus lagi. Stroke membuatnya tak lagi mengenal siapa-siapa. Termasuk sahabat seperjuangannya membangun kerakusan kekuasaan otoriter. Jangankan menikmati harta-hartanya, mengetahui kalau anak dan istri tersayangnya sudah meninggal dunia, tak mampu lagi hinggap di pikirannya.

br
br