Oleh Andi Wanua Tangke
Entah siapa namanya. Tak penting untuk diketahui. Satu hal yang jelas: wanita itu berasal dari negeri China. Wajah dan tulisan di tasnya membenarkan dugaan itu. Ya, seorang wanita muslim China. Usianya kira-kira 60 tahun.
Ratusan. Mungkin ribuan. Jemaah tiba-tiba memelototi wanita China itu, usai salat berjamaah asar di Masjidil Haram. Adakah tingkah aneh pada diri wanita China itu?
Memakai baju hitam polos. Kerudungnya pun warna hitam. Tampaklah wajahnya putih. Matanya sipit. Sembari meliarkan pandangannya ke kerumunan jemaah yang mengular seperti air deras sungai besar, wanita China itu mengangkat tinggi-tinggi tongkatnya yang berwarna merah.
Tongkat merah itu diayun-ayunkan seperti tarian sufi. Terus diayunkan. Matanya dikedip-kedipkan. Sekali-sekali wajahnya diusap dengan telapak tangan kirinya. Seorang laki-laki muda mendekatinya. Memberikannya segelas air zam-zam. Sambil menunduk hormat, dia menerima air zam-zam itu. Meminumnya hingga habis. Setelah hausnya terobati, wanita China itu mengangkat tongkat merahnya. Kembali diayun-ayunkan.
Dari ribuan jemaah yang lewat di depannya, hanya memandangi dengan raut wajah keheranan. Tak satu pun yang berinisiatif mendekatinya lalu menanyakan tentang tongkat merah yang diangkat tinggi dan ditarikan itu.
Saya memperhatikan tingkahnya. Juga bertanya-tanya dalam hati: untuk apa wanita China itu mengangkat tongkat merah sambil mengayunkan?
Saya melangkah ke arahnya. Saya ingin mendapatkan jawaban dari rasa penasaran saya. Ketika saya mendekat, wanita China itu balik memandang saya. Dia tersenyum. Saya tersenyum. Saya menunjuk-nunjuk tongkat merahnya dengan harapan: wanita China itu mau menjelaskan tujuan mengangkat dan mengayunkannya. Benar, dia menjelaskannya. Saya bingung. Saya tidak paham bahasanya: bahasa China.
Saya mendekati seorang pengawas haji asal Indonesia yang memakai baju seragam putih dengan tanda merah putih di bagian depan. Saya menanyakan: lagi ngapain wanita muslim China itu mengayunkan tongkat merahnya. “Oh itu. Orang China itu lagi tersesat dari rombongannya. Dengan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dia berharap ada temannya yang melihatnya, lalu membantunya kembali ke hotelnya.” Petugas itu tersenyum kepada saya. Oh, tongkat merah! ” *****












