FIKSI MINI (6) : Pura-Pura Bermoral

Oleh : Andi Wanua Tangke

Sore, dosen berwajah tampan itu sendirian di ruang kerjanya. Dia belum pulang. Teman-teman dosennya sudah meninggalkan kampus. Dia sedang berpikir: tentang rencana-rencananya. Kadang-kadang bergumam. Kadang-kadang mengulum senyum. Matanya berkedip kencang. Mirip gaya seorang aktor film detektif.

Dari luar, tiba-tiba, ada ketukan halus di pintu ruang kerjanya. Matanya memandang pintu itu sembari menahan napasnya yang agak tersengal. “Dia telah datang,” gumamnya tak terdengar. Dia membayangkan wajah tamunya. Hidungnya yang mancung. Matanya yang bulat. Kulitnya yang putih mulus. Postur tubuhnya yang berisi. Senyumnya yang malu-malu.

Dengan langkah cepat, dan pasti, dia menuju pintu. Dia memutar kunci pintu. Terbukalah daun pintu itu. Setelah menyapu pandang suasana di depan ruang kerjanya, dia menutup pintu. Menguncinya kembali. “Dari tadi saya tunggu. Kau makin cantik saja. Silakan masuk. Duduk di depan meja saya.” Sang Dosen memersilakan mahasiswinya yang berwajah cantik itu untuk masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan. Disebut cantik: mahasiswi yang berbaju biru muda dengan rok berwarna biru tua itu tersipu. Malu-malu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (3): Preman Kota Masuk Desa

“Dari tadi saya menunggumu. Coba lihat. Tak ada lagi dosen dan pegawai di kantor ini. Saya rela tetap di ruangan ini. Sendirian, demi kau, dinda. Itu artinya, saya ingin kau sukses. Cepat selesai skripsimu. Segera ikut ujian. Dan mendapatkan nilai tertinggi. Paham, kan?” Sang Dosen menatap mahasiswinya dengan tatapan tak berkedip.

“Terima kasih, Pak. Maaf, Pak, saya terlambat datang. Soalnya, macet di jalan. Lain kali saya akan cepat datang, Pak. Sekali lagi, maaf, Pak.” Mahasiswi itu melirik wajah Sang Dosen, lalu tertunduk.

“Sudahlah, dinda. Mana skripsinya. Apa sudah diindahkan saran saya minggu lalu, terutama Bab Empat yang agak kacau bahasa dan diksinya. Saya ingin skripsinya tampil beda dengan skripsi lainnya yang ditulis sekadar memenuhi persyaratan kelulusan kesarjanaan. Skripsimu harus bermutu. Lantaran itu saya fokus mengajarimu menulis skripsi yang baik dan benar.”

Mahasiswi cantik menyerahkan naskah skripsinya yang tersimpan rapi dalam map plastik berwarna merah muda. “Ini, Pak.” Skripsi itu pun berpindah tangan. Kini Sang Dosen membuka-buka lembarannya sembari sekali-sekali melirik mahasiswa cantik.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (4): Lelaki Tua Berjaket Tebal

“Wah, saya lihat ini masih kacau. Perlu perombakan, khususnya Bab Empat yang menyangkut bagian utama skripsi ini. Tapi jangan takut ya, saya akan bantu kau, dinda.”

Mendengar Sang Dosen berjanji mau membantu memerbaiki skripsinya, mahasiswi cantik meresponnya dengan senyuman yang terkulum.