Oleh Andi Wanua Tangke
Lelaki tua itu memarkir motor HONDA tuanya tepat di depan warkop. Saya menduga usianya sekitar tujuh puluh tahun. Postur tubuhnya gemuk. Wajahnya memancarkan aura kegetiran. Mirip preman tua.
Kini sudah melangkah masuk warkop dengan lunglai. Jalannya terseok. Kakinya hampir menabrak tembok pembatas di depan pintu. Atau boleh jadi dia habis menikmati minuman beralkohol. Ya, boleh jadi.
Sebelum duduk di kursi kayu jati tua di samping pintu warkop yang daunnya berkisi-kisi kayu, dia meliarkan matanya ke sekeliling ruangan. Dia menatap satu persatu tamu. Termasuk saya dan seorang lelaki kurus dengan rambut gondrong yang duduk di samping meja saya.
Lelaki tua itu membuka jaket tebal dan panjangnya. Jaket itu mirip jaket yang sering dipakai lelaki Rusia. Terbuat dari kain wol dan dilapisi kain tebal berlapis. Terkesan empuk dipakai. Dia ingin menggantung jaketnya. Namun pemilik warkop tak menyediakan penggantung. Lelaki tua itu pun melipat sembrono jaketnya, lalu menyimpan di kursi di samping kursi tempatnya duduk.
Lelaki tua tak perlu memesan kopi seperti tamu warkop lainnya. Dia hanya menatap mata perempuan muda yang wajahnya tak cantik itu, tapi lumayan manis. Ya, bolehlah disebut hitam manis. Bila diperhatikan baik-baik dan mendalam, perempuan itu mungkin berstatus janda satu anak atau dua anak. Saya hanya menduga.
Tak sampai tujuh menit, perempuan muda itu sudah membawakan kopi hitam dan tiga telur ayam kampung setengah matang. Lengkap dengan pasangannya: garam halus dan merica bubuk.
Ketika selesai menikmati telur ayam kampung, lelaki tua itu kembali memerhatikan lelaki muda berambut gondrong. Saya yang sedang mengamati gerak-geriknya sejak dia masuk warkop, tiba-tiba matanya beralih ke saya. Saya pun pura-pura memandang ke luar jalan raya. Saya terpaksa bersiasat. Tujuannya, agar tak timbul rasa kecurigaannya.
Kopi hitamnya sisa setengah gelas. Berbeda dengan tamu lainnya. Untuk menghabisi kopi setengah gelas itu butuh waktu berjam-jam. Lelaki tua itu tidak. Sepertinya dia ingin cepat meninggalkan warkop ini.
Lantaran sudah dingin, kopi setengah gelas itu hanya sekali diteguk, langsung habis. Terlihat gelasnya hanya ampas kopi yang tersisa.
Lelaki tua berdiri. Kembali memakai jaket wol tebal ala Rusia. Melangkah ke meja kasir di bagian belakang sudut samping toilet. Dia menyerahkan uang kertas ke perempuan muda.
Saat berjalan hendak meninggalkan warkop, lelaki tua itu kembali memerhatikan lelaki muda berambut gondrong.
Lelaki tua yang tak pernah berbicara dengan tamu warkop, kini sudah pergi bersama motor tuanya yang bunyinya terputus-putus. Seakan tak lama lagi akan kehabisan bensin.






