Oleh Andi Wanua Tangke
Seorang pemuda bernama Ivan bertemu dengan seorang gadis, namanya Inun. Pertemuan itu pada 1980-an. Di sebuah kota di Sulawesi Selatan.
Saat itu Ivan sudah mahasiswa. Sementara Inun masih duduk di SMA, kelas tiga. Suatu hari, pertemuan itu terulang. Ivan tak mampu lagi menyimpan gemuruh hatinya. Di hadapan Inun, Ivan mengungkapkan cintanya. Terus-terang. Mendengar pengakuan itu, Inun terdiam. Tidak tersenyum dan tidak marah. Raut wajahnya terkesan sedang menahan alur napas yang tak beraturan. Jantungnya berdetak kencang. Inun lalu tertunduk. Sebagian rambutnya yang berombak dan panjang itu menutupi wajahnya yang manis.
“Bagaimana, Dinda Inun, tentang ungkapan cintaku kepadamu?”
Tak lama kemudian Inun menatap mata Ivan “Apa Kakak serius?” Inun bertanya dengan suara pelan, lembut.
“Saya serius, Dinda.”
“Saya pikir-pikir dulu ya, Kak.”
Ivan mengangguk sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Inun mengindahkannya dengan membalas jabat tangan itu. Ivan merasakan getar tangan Inun dengan perasaan berbunga-bunga.
Setelah pertemuan itu, Inun pulang ke rumahnya di Jalan Gunung Bawakaraeng.
Sekitar dua minggu kemudian, Ivan dan Inun bertemu kembali. Bagaikan sepasang merpati, keduanya pun mengikat janji. Menyimpan rasa cinta dengan rapat. Mata Ivan dan mata Inun beradu, lalu berbinar. Ada haru bahagia bertengger di kelopak mata itu.
***
Perjalanan cinta kedua anak manusia ini pun berjejak dalam keindahan. Sebagai refleksi cintanya, Ivan selalu membawa Inun jalan-jalan ke rumah kost teman kuliahnya. Ivan bahagia memperkenalkan Inun kepada teman-temannya. Pulang dari rumah temannya, Ivan membawa Inun ke warung untuk makan mi yang terkenal di kotanya.
Untuk membuktikan dirinya serius menjalin hubungan dengan Inun, Ivan sering berkunjung ke rumah Inun. Di rumah itu Ivan bertemu dengan Kak Nur, tante Inun. Kak Nur orangnya ramah. Biasanya dia yang membuatkan minuman teh untuk Ivan. Ada kue tradisional. Kadang juga ada pisang goreng dan ubi goreng. Ivan merasa, Kak Nur sudah tahu tentang hubungan cintanya dengan keponakannya, Inun. Tampaknya Kak Nur tidak keberatan hubungan ini. Hanya Kak Nur sering menasihati Inun. “Jaga dirimu baik-baik, Inun.” Begitu nasihat Kak Nur pada keponakannya yang sangat disayanginya itu.
Menjelang Inun tamat SMA, setahun setelah cinta itu tumbuh subur bagaikan bunga mawar di pot yang cantik, bagaikan sepasang burung merpati yang sedang bercumbu, Ivan tiba-tiba melangkah mundur. Pelan-pelan berusaha menjauhi Inun.
Perubahan sikap itu membuat Inun heran. Tak lama kemudian gadis hitam manis itu jatuh sakit. Selama dua minggu dirawat di rumah sakit, tak sekali pun Ivan menjenguk Inun. Sejak saat itu, Inun dan Kak Nur, menyimpulkan, Ivan telah berubah. “Tidak apa-apa bila Kak Ivan berubah dengan tidak mencintaiku lagi. Hanya satu yang aku ingin dengar dari bibirnya Kak Ivan: mengapa dia tiba-tiba menjauh dari diriku?” “Sudahlah, Inun. Pasti ada penyebabnya. Biarkan waktu akan menjawabnya. Kini sudah saatnya kau kembali sehat. Berusahalah tak mengingatnya Ivan lagi.” Kak Nur menasihati Inun.








