***
Ivan menjauh bukan berarti telah kehilangan cintanya pada Inun. Justru sikap menjauh dari diri Inun dilakukan, demi agar perempuan yang kedua orang tuanya yang tak lagi bersamanya itu, kelak tak menyimpan sakit hati yang berkepanjangan dalam hidupnya “Karena aku tak mungkin menjadikan Inun, kekasihku yang sangat aku cintai, itu sebagai istriku. Semua itu setelah aku mendengar kisah tragis dari ibuku.” Ivan bergumam. Tertunduk.
Sore kabut itu, Ibu Haerani, ibu kandung Ivan, memanggil anaknya ke ruang tamu. Dia ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting untuk Ivan, anak satu-satunya itu.
“Ivan, anakku. Aku sungguh menyayangimu. Begitu sayangku kepadamu, aku mohon mulai sekarang kau harus menjauhi gadis Inun.”
Ivan tersentak. Kaget. Matanya memelototi wajah ibunya. “Mengapa Ibu berpikir seperti itu. Aku mencintai Inun. Dia gadis yang baik.”
“Aku tahu Inun gadis yang baik, Nak. Tapi, percayalah, Nak, bila Inun menjadi istrimu, maka masa depanmu akan suram. Penderitaan akan terus menghantuimu, Nak. Keluargamu akan dikejar-kejar pihak keamanan. Kau, istrimu, dan anak-anakmu, kelak, dicap sebagai warga negara yang tidak bersih lingkungan.”
“Aku tidak mengerti mengapa Ibu punya kesimpulan seperti itu?”
Ibu Haerani mendekat ke kursi anaknya, lalu duduk di sampingnya. Dia hendak menceritakan kisah yang selama ini disembunyikannya.
“Begini, Nak. Dengarkan kisah Ibu baik-baik. Ibu kandung Inun itu bernama Hanning. Dia sering dipanggil dengan nama Ning. Dia sahabat baikku, sejak remaja hingga dia menikah bersama lelaki bernama Suparman, dan melahirkan anak yang dia beri nama Inun. Ning seorang pembaca puisi hebat. Bila dia membaca puisi di panggung, semua penonton terhenyat, kagum. Dia sangat menjiwai makna yang terkandung di dalam puisi yang sedang dibacanya. Bukan hanya pembaca puisi yang memukau, tapi dia juga belajar menulis puisi. Karya puisinya yang sering dimuat di rubrik sastra koran Harian Rakjat dinilai oleh kritikus sastra pada zamannya sebagai puisi yang bertemakan kritik sosial dan humanis. Lantaran selalu berkumpul dengan para seniman, saat itu, dia diajak bergabung dalam organisasi yang bernama Lekra. Lekra adalah kepanjangan dari: Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dalam lembaga itu Ning menjadi pengurus Lekra. Namanya tercantum sebagai sekretaris di bidaang sastra.”
“Lalu mengapa kalau Ibu Ning aktif membaca puisi dan menjadi pengurus Lekra, apanya yang salah, Bu?” Ivan merespon kisah yang disampaikan ibunya berkaitan dengan perjalanan hidup Ning.
“Dengarkan dulu, Nak. Ketika Soeharto menggulingkan Soekarno, dan berhasil menjadi Presiden RI, lalu memusuhi rezim Orde Lama, menggantinya rezim baru yang dia beri nama Orde Baru, maka mulai saat itu suasana bangsa ini berubah total. Semua tokoh dan warga yang pernah dekat dengan Soekarno dienyahkan. Istilahnya saat itu dibumihanguskan. Termasuk lembaga-lembaga yang berbau komunis, dibubarkan. Dihentikan aktivitasnya. Anggota dan simpatisannya ditangkap. Dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Tahanan-tahanan itu banyak meninggal dalam penderitaan di penjara.”










