FIKSI MINI (5): Cinta & Penyair Lekra

“Ibu Ning bagaimana, Bu?”

“Ning, ibu kandung Inun, itu entah bagaimana nasibnya. Aku hanya mendengar kisahnya dari tetangganya.”

“Bagaimana kisahnya, Bu?”

“Subuh itu, truk tentara singgah di depan rumahnya Ning. Lima tentara berseragam hijau, lengkap dengan senjata laras panjang, melompat turun dari truk. Mendobrak pintu rumah semi permanen itu. Pintu yang terbuat dari kayu itu seketika roboh. Dalam kegelapan, mereka berteriak menyebut nama Ning. Katanya, Ning adalah antek komunis yang terlibat dalam Lekra, sayap Partai Komunis Indonesia. Suaminya keluar dari kamar. Dia menyampaikan, istrinya bukan komunis. Tentara itu langsung menyeret suami Ning yang bernama Suparman naik ke truk. Seorang tentara masuk ke salah satu kamar di bagian belakang, dekat dapur. Di sudut kamar itu mereka menemukan Ning yang sedang merangkul anak kecilnya, itulah Inun yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja berwajah manis. Wajahnya mirip wajah Ning, ibunya. Seketika Ning ditarik keluar dari kamar. Digiring paksa naik ke truk. Anak kecilnya, Inun, menangis histeris. Berlari keluar rumah. Memandang truk tentara yang membawa kedua orang tuanya, entah dibawa ke mana. Subuh itu adalah subuh terakhir Inun melihat kedua orang tuanya. Sejak saat itu hingga kini nasib Ning bersama suaminya, Suparman, tak diketahui lagi.” *****

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia