Oleh Andi Wanua Tangke
Sudah tiga puluh tahun berkeluarga, Sundari setia menyimpan rahasia untuk suami dan anak tunggalnya, seorang perempuan berwajah manis. Namanya: Endang. Setiap sang suami menanyakan ibu mertuanya yang tak pernah dilihatnya itu, Sundari hanya mengatakan: ibunya bernama Ratmini. Dia perempuan baik-baik. Begitu juga bila Endang menanyakan riwayat neneknya, Sundari hanya berucap: nenekmu itu bernama Ratmini. Dia penyayang.
Lantaran selalu mendapatkan jawaban seperti itu, sang suami dan anaknya tak pernah lagi serius menanyakan keberadaan perempuan bernama Ratmini itu.
***
Pagi itu, sang suami pergi bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan milik warga Tionghoa. Anaknya pergi bekerja sebagai karyawan pabrik roti di pinggir kota. Sundari sendiri di rumah. Saat itu gerimis panjang. Dia duduk menyendiri di teras rumahnya. Dia mengingat Ratmini, ibunya. Terbayang raut wajahnya yang bulat dan putih. Rambutnya
berombak kecil dan halus. Mirip Ibu Tien Soeharto. Tatapan matanya teduh. Dalam pandangannya yang menerawang seakan menembus gerimis dengan langit yang mendung tebal, Sundari mengingat peristiwa mencekam puluhan tahun lalu.
Tengah malam, menjelang subuh, puluhan pemuda desa mendatangi rumahnya yang dikelilingi rimbunan pohon bambu. Pemuda itu membawa obor sebagai penerang. Saat mendekat ke rumahnya, pemuda itu serentak berteriak: “Itu rumah Ratmini, itu rumah Ratmini, itu rumah Ratmini.” “Tangkap Ratmini, tangkap Ratmini, tangkap Ratmini…” Sundari yang saat itu masih berusia tiga belas tahun terbangun dari tidurnya. Dia kaget mendengar suara-suara yang menyebut nama ibunya. Dalam kegelapan, dia meraba mencari ibunya yang malam itu bersamanya di ranjang kayu tanpa kelambu. Betapa herannya, Sundari tak menemukan lagi ibunya di sampingnya. Perlahan, dia bangun. Turun dari ranjang. Mengendap-endap ke ruang depan. Dilihatlah ibunya jongkok di belakang kursi rotan. “Jangan bicara, Nak. Diam saja, Nak. Mereka mau tangkap ibu. Entah apa kesalahannya ibu. Kalau memang ibu ditangkap dan harus dibawa malam ini, pergilah ke tantemu, adik saya, yang tinggal di kampung sebelah, Nak.” Kata-kata itu disampaikan Ratmini dengan setengah berbisik. Sundari menangis pedih. Air matanya bercucuran seperti mutiara.
Pemuda-pemuda itu merobohkan daun pintu rumah yang terbuat dari bambu. Sambil memegang obor menyinari ruang depan rumah, seorang pemuda menendang kursi rotan. Ratmini berdiri. Pemuda itu menunjuk-nunjuknya sembari bertanya: kau Ratmini? “Iya, saya Ratmini. Ada apa ke rumah saya tengah malam ini?” Pertanyaan Ratmini itu tak dihiraukan. Pemuda itu langsung memerintahkan teman-temannya yang lain untuk menangkap Ratmini. Menyeretnya ke luar rumah.
“Izinkan saya memeluk anak saya, Pak. Sebentar saja, Pak.” Ratmini memohon kepada seorang pemuda gemuk yang memakai sarung bermotif kotak-kotak dengan songkok hitam di kepala. Dengan nada kasar, pemuda itu mendorong Ratmini mendekati anaknya yang berdiri di samping kursi rotan dengan wajah basah air mata tangis.
“Jangan menangis, Nak. Ibu pergi sebentar. Ingat kalau matahari pagi sudah datang, pergilah menemui tantemu, Nak.Tinggallah dulu di rumahnya. Ibu tidak lama, Nak. Sabar ya, Nak. Engkau anak kesayangan ibu.” Setelah berbicara terbata-bata dengan anaknya, Ratmini ditarik paksa tangannya oleh pemuda itu. Diseret ke luar rumah. Dipaksa naik ke mobil truk yang sudah menunggu di jalanan depan rumah. Di atas truk itu, Ratmini tidak sendiri. Puluhan orang. Semuanya perempuan. Saat truk itu hendak pergi meninggalkan depan rumah Ratmini, tiba-tiba sopir turun dari mobil. “Mengapa tidak sekalian tangkap suaminya Ratmini. Pasti dia juga terlibat.” Seorang pemuda mendekati sang sopir. ” Eh…Ratmini ini seorang janda satu anak. Ayo, jalan.” “Oh, janda. Janda muda. Cantik. Hehe…” Sopir itu tersenyum. Kembali ke mobilnya. Truk itu pun melaju kencang.












