FIKSI MINI (8): Korban Tragedi 30 S. 

“Izinkan saya memeluk anak saya, Pak. Sebentar saja, Pak.” Ratmini memohon kepada seorang pemuda gemuk yang memakai sarung bermotif kotak-kotak dengan songkok hitam di kepala. Dengan nada kasar, pemuda itu mendorong Ratmini mendekati anaknya yang berdiri di samping kursi rotan dengan wajah basah air mata tangis.

“Jangan menangis, Nak. Ibu pergi sebentar. Ingat kalau matahari pagi sudah datang, pergilah menemui tantemu, Nak.Tinggallah dulu di rumahnya. Ibu tidak lama, Nak. Sabar ya, Nak. Engkau anak kesayangan ibu.” Setelah berbicara terbata-bata dengan anaknya, Ratmini ditarik paksa tangannya oleh pemuda itu. Diseret ke luar rumah. Dipaksa naik ke mobil truk yang sudah menunggu di jalanan depan rumah. Di atas truk itu, Ratmini tidak sendiri. Puluhan orang. Semuanya perempuan. Saat truk itu hendak pergi meninggalkan depan rumah Ratmini, tiba-tiba sopir turun dari mobil. “Mengapa tidak sekalian tangkap suaminya Ratmini. Pasti dia juga terlibat.” Seorang pemuda mendekati sang sopir. ” Eh…Ratmini ini seorang janda satu anak. Ayo, jalan.” “Oh, janda. Janda muda. Cantik. Hehe…” Sopir itu tersenyum. Kembali ke mobilnya. Truk itu pun melaju kencang.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (6) : Pura-Pura Bermoral

***

Sundari tumbuh besar menjadi gadis remaja yang semampai. Dia dipelihara oleh tantenya, Mira. Ibunya, Ratmini, sejak peristiwa subuh itu, tak pernah kembali. Dalam benak Sundari, ibunya diculik oleh penjahat.

Puluhan tahun sudah ibunya meninggalkannya. Sundari yang mulai berpikir dewasa: mungkin ibunya sudah meninggal. Tapi kalau sudah meninggal di mana kuburnya. Sundari ingin menziarahi kuburan ibunya yang sangat dirindukannya itu.

Suatu malam yang sepi, Mira, tantenya itu, memanggil keponakannya, Sundari. “Nak, ibumu, kakak saya, Ratmini, benar diculik oleh penjahat, tapi bukan penjahat kriminal.”

“Maksud tante, penjahat apa?” Sundari penasaran.

“Penjahat politik. Begini, ibumu dicurigai sebagai anggota Gerwani.”

“Apa itu Gerwani, Tante?”

“Gerwani, singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia.”

“Kalau anggota Gerwani, mengapa diculik, lalu dibawa entah ke mana?”

“Ratmini, ibumu bukan anggota Gerwani. Hanya dia sering dipanggil mencuci piring kalau ada acara yang digelar organisasi Gerwani. Karena sering terlihat di acara-acara itu, dia lalu dituduh anggota Gerwani. Ratmini, kakak saya, bukan Gerwani.”

BACA JUGA:  FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

“Tante Mira, mengapa orang yang dituduh anggota Gerwani, diculik, dan tidak kembali lagi?”

“Begini, Nak. Sejak Presiden Soekarno ditumbangkan kekuasaannya pada 1965, lalu Jenderal Soeharto tampil sebagai Presiden, semua organisasi yang dulu dekat dengan Soekarno, dienyahkan. Termasuk Gerwani itu. Anggota dan simpatisannya dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia.”