“Oh, jadi ibu saya dituduh terlibat dalam gerakan komunis ya, Tante?”
“Betul, Nak. Tapi Ratmini, ibumu itu, bukan anggota Gerwani. Kakak saya itu bukan komunis, Nak.”
“Jadi ibu saya korban salah tangkap, Tante?”
“Ibumu tidak sendiri, Nak. Ribuan, mungkin jutaan rakyat ditangkap. Dibuang. Entah dikubur di mana. Tapi sudahlah, Nak. Begitulah namanya perebutan kekuasaan. Selalu meninggalkan misteri dan cerita derita. Mari kita menyimpannya rapat-rapat. Tak usah diceritakan kepada siapa pun. Kita menata dan menatap masa depan, Nak.”
Sundari tertunduk. Matanya basah. Air matanya meleleh ke pipinya. Linangannya jatuh ke pahanya yang putih mulus. “Alfatihah untuk ibu. Saya rindu dan mencintaimu, Ibu.” Sundari mendekati tantenya. Memeluknya. Erat sekali.
***
Pagi itu, sebelum berangkat bekerja di perusahaan pabrik roti, Endang mengajak sarapan bersama ibunya, Sundari. Sambil menikmati sarapan pagi dengan lauk tempe goreng dan telur mata sapi, Endang menyampaikan sesuatu ke ibunya. “Ibu, tadi malam saya bermimpi. Saya melihat seorang nenek. Mungkin nenek saya. Datang mendekati kamar saya. Dia berdiri di pintu, lalu mengangkat tangannya. Sepertinya nenek itu memanggil-manggil saya. Apa makna mimpi itu, Ibu?”
“Kan saya sudah bilang, nenekmu itu memang orangnya penyayang. Maknanya: Endang harus menjadi perempuan yang tegar menjalani hidup.”
“Oh begitu, Ibu. Alhamdulillah. Alfatihah untuk nenek saya…”
Sejak terungkapnya mimpi itu, Sundari selalu gelisah. Cemas. Takut. Dia pernah mendengar penerjemah mimpi. Katanya, kalau ada mimpi leluhur memanggil-manggil yang sedang bermimpi itu: sebuah tanda mendekatnya kematian. “Siapa pun bermimpi dipanggil oleh leluhurnya yang sudah meninggal, itu tanda mendekatnya kematian. Satu-satunya jalan menghalau mimpi itu: segera berziarah ke kuburan leluhur yang memanggil dalam mimpi itu.”
Sundari bingung. Dia ingin membawa anaknya, Endang, pergi menziarahi kuburan neneknya, Ratmini. Tapi Sundari tidak tahu: di mana kuburan ibunya? *****
Catatan: kisah ini sebelum direvisi ulang, pernah dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul IBU.
—————–












