FIKSI MINI (16): Selingkuh Berujung Darah

Oleh Andi Wanua Tangke

Haji Beni tak percaya kabar yang baru saja disampaikan tetangganya. Sebenarnya kabar itu sudah lama dia dengar. Bahkan kabar itu sudah menjadi pembicaraan bisik-bisik rahasia di pasar, tempat Haji Beni menjual beras dan gula merah. Telinganya sudah sesak menampung kabar yang tak jelas sumber utamanya itu. Setiap dia bertanya kepada orang yang membisikkan kabar itu, dia hanya mendapat jawaban: kabar itu hanya dia dengar-dengar juga. Begitulah kabar itu kian menyebar. Meluas.

Baginya, kabar itu hanya mau merusak kehidupan rumah tangganya. Ujung-ujungnya membuat usaha dagangnya bangkrut lantaran Haji Beni tak fokus lagi mengembangkannya. Sudah malas memikirkan kemajuan usahanya. Hanya memikirkan kabar yang tak menentu itu, sehingga usahanya tak normal lagi. Pembelinya pun sepi mendatangi jualan beras dan gula merahnya.

br

Haji Beni tak mau usahanya hancur lebur hanya karena kabar itu. Bila ada yang datang menyampaikan lagi kabar itu kepadanya, dia cepat-cepat mengusir orang itu. “Kalau kau mau menyampaikan kabar itu, pulanglah. Lebih baik kau tak membeli beras dan gula merahku, kalau kau datang ke lodsku ini mau menceritakan kabar itu. Aku tahu kau mau melihat usaha daganganku tak maju lagi. Bahkan kau mau melihatnya merugi. Akhirnya tutup. Itu kan tujuanmu?” Begitu respon Haji Beni kepada setiap orang yang datang ke tempat jualannya yang selain bermaksud membeli beras dan gula merah, juga ingin menyampaikan kabar itu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (12): Wanita China dan Tongkat Merahnya

***

Sudah puluhan tahun Haji Beni menjual beras dan gula merah di pasar rakyat itu. Beras dan gula merahnya dikenal oleh warga sebagai beras dan gula merah berkualitas tinggi. Haji Beni tak mau menjual beras dan gula merah asal-asalan. Kualitas rendahan. Dia memiliki prinsip dagang: biar untungnya tipis, yang penting pembelinya merasa puas.

“Kalau kita menjual barang yang bagus dan murah tentu pembeli akan datang. Itu nasihat leluhurku di kampung yang dulu bekerja sebagai pedagang ikan kering. Kata leluhurku, hidup ini tak perlu memburu kekayaan materi. Yang perlu diburu adalah keberkahan. Biar sedikit, yang penting berkah. Hidup ini akan ditinggalkan. Selamanya. Sampai kapan kau mau hidup. Semuanya pasti berakhir. Coba perhatikan jajaran kuburan-kuburan itu. Manusia-manusia itu semua pernah hidup. Hanya bekal di akhirat yang perlu diperbanyak dalam hidup. Tak ada yang lain.” Haji Beni memegang teguh prinsip hidup leluhurnya.

Dalam menjalankan usaha dagangnya, bukan berarti Haji Beni tak pernah mengalami goncangan. Hal itu disebabkan sejumlah pedagang yang sama di pasar yang sama menebar gosip.

br
br