FIKSI MINI (16): Selingkuh Berujung Darah

Hari itu dia pulang cepat. Dia tidak langsung ke rumahnya. Dia singgah di rumah tetangganya yang sering membisikkan perselingkuhan istrinya bersama lelaki bujang itu. Berbicara sejenak. Tetangganya tetap pada ceritanya yang lalu-lalu. “Kalau kau tidak ada di rumah itu, lelaki itu pasti datang.” Mendengar kabar itu, Haji Beni bernapas panjang. Darahnya mendidih. Dia pun memikirkan siasatnya untuk menuntaskan kerikil tajam yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan keluarganya.

“Ma, sebentar malam aku mau ke daerah.” Haji Beni menyampaikan rencananya ke daerah kepada istrinya.

br

“Papa mau ke daerah untuk beli beras dan gula merah?” Istrinya balik bertanya.

“Betul, Ma. Jualan beras dan gula merah kita tinggal sedikit.”

“Jadi Papa bermalam di daerah. Rencana berapa malam?”

“Rencana dua malam, termasuk malam ini.”

Sebelum berangkat malam itu, Haji Beni menutup semua jendela rumahnya. Satu dari enam jendela itu, dia tidak merapatkan grendelnya.

“Selamat di jalan, Pa.” Istrinya mengantar suaminya hingga ke ujung tangga bagian bawah.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (13): Ustaz Pengarang Cerita

***

Benar, tengah malam sunyi senyap. Gerimis. Lelaki bujang itu datang. Haji Beni mengintainya dari jauh. Rencananya ke daerah membeli beras dan gula merah hanya siasat kepada istrinya. “Tak salah apa yang diceritakan tetanggaku.” Haji Beni bergumam sendiri.

Menjelang subuh, Haji Beni berjalan mengendap-endap. Sampai di kolong rumahnya, dia menarik parang panjangnya yang terselip di antara papan dan tiang rumah.

Parang itu kini di tangan kanannya. Dia lalu menjejakkan kakinya di anak tangga dengan pelan. Sangat pelan. Tangannya mendorong daun jendela yang terbuka grendelnya. Saat terbuka lebar, Haji Beni melompat menuju kamarnya. Lelaki bujang itu terkejut. Dia terbangun, membuka pintu kamar hendak berlari, Haji Beni tanpa bertanya lagi, seketika mengayunkan parangnya. Melihat lelaki bujang itu tak bergerak dalam kegelapan, Haji Beni masuk kamar. Melihat istrinya hanya memakai sarung tanpa baju, Haji Beni pun melayangkan parangnya.

Masjid kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya telah mengumandangkan suara azan. Haji Beni turun dari rumah. Menuju masjid. Parang itu tetap di tangannya. Dia simpan di rerumputan di samping masjid.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (15): Mimpi Melihat Pak Wali Berwajah Raksasa

Usai salat subuh berjamaah, Haji Beni tak lagi mengikuti doa yang dipimpin imam masjid. Dia bergegas keluar. Mengambil parangnya. Berlari-lari kecil menuju kantor polisi.

“Lapor, Pak.” Haji Beni melapor ke seorang polisi piket. Polisi itu terkejut. Raut wajahnya ketakutan melihat parang berdarah.

“Apa yang terjadi?” Polisi itu berdiri sembari tangannya memegang pistol.

br
br