FIKSI MINI (16): Selingkuh Berujung Darah

Selama ini Haji Beni tak pernah memercayai kabar buruk yang menimpa keluarganya, meski ceritanya sungguh meyakinkan. Dikabarkan, bila Haji Beni ke pasar atau ke kampung membeli beras dan gula merah untuk dijual di pasar, waktu-waktu luang itu dimanfaatkan oleh istrinya untuk menjalin asmara terlarang bersama seorang lelaki bujang.

Haji Beni ingin membuktikan kabar itu. Pagi-pagi sekali dia mengasah parang panjangnya hingga terasa ketajamannya. Parang tanpa sarung itu disimpan di kolong rumah panggungnya. Diselipkan di antara papan dan tiang rumahnya. Setelah itu dia pergi ke pasar membuka lods jualan beras dan gula merahnya.

Hari itu dia pulang cepat. Dia tidak langsung ke rumahnya. Dia singgah di rumah tetangganya yang sering membisikkan perselingkuhan istrinya bersama lelaki bujang itu. Berbicara sejenak. Tetangganya tetap pada ceritanya yang lalu-lalu. “Kalau kau tidak ada di rumah itu, lelaki itu pasti datang.” Mendengar kabar itu, Haji Beni bernapas panjang. Darahnya mendidih. Dia pun memikirkan siasatnya untuk menuntaskan kerikil tajam yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan keluarganya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (3): Preman Kota Masuk Desa

“Ma, sebentar malam aku mau ke daerah.” Haji Beni menyampaikan rencananya ke daerah kepada istrinya.

“Papa mau ke daerah untuk beli beras dan gula merah?” Istrinya balik bertanya.

“Betul, Ma. Jualan beras dan gula merah kita tinggal sedikit.”

“Jadi Papa bermalam di daerah. Rencana berapa malam?”

“Rencana dua malam, termasuk malam ini.”

Sebelum berangkat malam itu, Haji Beni menutup semua jendela rumahnya. Satu dari enam jendela itu, dia tidak merapatkan grendelnya.

“Selamat di jalan, Pa.” Istrinya mengantar suaminya hingga ke ujung tangga bagian bawah.

***

Benar, tengah malam sunyi senyap. Gerimis. Lelaki bujang itu datang. Haji Beni mengintainya dari jauh. Rencananya ke daerah membeli beras dan gula merah hanya siasat kepada istrinya. “Tak salah apa yang diceritakan tetanggaku.” Haji Beni bergumam sendiri.

Menjelang subuh, Haji Beni berjalan mengendap-endap. Sampai di kolong rumahnya, dia menarik parang panjangnya yang terselip di antara papan dan tiang rumah.

Parang itu kini di tangan kanannya. Dia lalu menjejakkan kakinya di anak tangga dengan pelan. Sangat pelan. Tangannya mendorong daun jendela yang terbuka grendelnya. Saat terbuka lebar, Haji Beni melompat menuju kamarnya. Lelaki bujang itu terkejut. Dia terbangun, membuka pintu kamar hendak berlari, Haji Beni tanpa bertanya lagi, seketika mengayunkan parangnya. Melihat lelaki bujang itu tak bergerak dalam kegelapan, Haji Beni masuk kamar. Melihat istrinya hanya memakai sarung tanpa baju, Haji Beni pun melayangkan parangnya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (10): Bromocorah vs Koruptor

Masjid kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya telah mengumandangkan suara azan. Haji Beni turun dari rumah. Menuju masjid. Parang itu tetap di tangannya. Dia simpan di rerumputan di samping masjid.

Usai salat subuh berjamaah, Haji Beni tak lagi mengikuti doa yang dipimpin imam masjid. Dia bergegas keluar. Mengambil parangnya. Berlari-lari kecil menuju kantor polisi.

“Lapor, Pak.” Haji Beni melapor ke seorang polisi piket. Polisi itu terkejut. Raut wajahnya ketakutan melihat parang berdarah.

“Apa yang terjadi?” Polisi itu berdiri sembari tangannya memegang pistol.

“Aku telah membunuh dua binatang di dalam rumah, Pak. Ini parang yang aku pakai.” Haji Beni menyerahkan parang itu. Sang Polisi memelototi tajam mata Haji Beni. *****

————————

Kisah ini: hasil revisi terbaru.