FIKSI MINI (16): Selingkuh Berujung Darah

Haji Beni bernapas panjang mendengar cerita Dindong. Dia lalu masuk ke dalam rumah. Membuka dompetnya. Mengambil dua lembar uang kertas. Memberikannya ke Dindong.

“Terima kasih informasinya, Dindong. Jangan ceritakan ke orang kalau aku memanggilmu malam ini.”

br

“Terima kasih juga, Pak Haji. Aku juga memohon kepada Pak Haji tidak menyampaikan ke penjual di pasar kalau aku membocorkan informasi itu.”

“Ada pesanku kepadamu, Dindong.”

“Apa, Pak Haji.”

“Mulai sekarang ketika kau memarkir kendaraan pengunjung, yakinkan dan ceritakan mereka, jualan beras dan gula merahku memang murah dan berkualitas. Sampaikan juga, banyak penjual di pasar ini merasa iri kepadaku dengan menyiarkan kabar bohong, tentang jimat jin itu.”

“Iya, Pak Haji. Mulai besok aku akan yakinkan pengunjung pasar.”

Dindong pergi dengan senang hati karena menerima uang kertas dua lembar. Haji Beni menutup pintu pagar. Masuk ke dalam rumah. Perasaannya tak menentu.

***

Pagi-pagi Haji Beni sudah masuk pasar. Duduk termenung di lodsnya. Sekali-sekali matanya memandang menerawang. Dalam benaknya, sepinya pembeli beras dan gula merahnya akhir-akhir ini bukan karena adanya gosip jin setan, seperti yang diceritakan Dindong, malam itu, di rumahnya. “Mungkin Dindong hanya mengarang cerita. Dia dapat menangkap dugaan-dugaanku. Ceritanya bertujuan membuatku merasa terpanggil untuk memberikan uang padanya. Dindong, meski tukang parkir, namun memiliki kecerdasan dalam memahami arah pembicaraan dengan seseorang. Termasuk aku, misalnya.” Haji Beni menduga-duga.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (12): Wanita China dan Tongkat Merahnya

Bila bukan jimat jin setan itu membuat dagangannya sepi pengunjung, lalu apa penyebabnya? Pertanyaan dalam benaknya itu tiba-tiba menemukan jawaban pada kabar yang selalu disampaikan tetangganya. “Jangan-jangan kabar yang sudah menyebar, termasuk yang sering dibisikkan tetanggaku, dan aku tak pernah mempercayai kebenarannya itu, justru benar terjadi. Aku masih ingat pesan leluhurku di kampung, bila ada suami yang berselingkuh atau istri yang berselingkuh, maka mulai saat itu akan terjadi keruntuhan rezeki bagi keluarga itu.” Haji Beni berbicara pada dirinya sendiri.

Selama ini Haji Beni tak pernah memercayai kabar buruk yang menimpa keluarganya, meski ceritanya sungguh meyakinkan. Dikabarkan, bila Haji Beni ke pasar atau ke kampung membeli beras dan gula merah untuk dijual di pasar, waktu-waktu luang itu dimanfaatkan oleh istrinya untuk menjalin asmara terlarang bersama seorang lelaki bujang.

Haji Beni ingin membuktikan kabar itu. Pagi-pagi sekali dia mengasah parang panjangnya hingga terasa ketajamannya. Parang tanpa sarung itu disimpan di kolong rumah panggungnya. Diselipkan di antara papan dan tiang rumahnya. Setelah itu dia pergi ke pasar membuka lods jualan beras dan gula merahnya.

br
br