FIKSI MINI (15): Mimpi Melihat Pak Wali Berwajah Raksasa

Oleh Andi Wanua Tangke

Usai salat subuh berjamaah di masjid, Basrah bergegas kembali ke rumahnya. Istrinya sudah menyiapkan kopi hitam gula aren. Kopi hangat itu segera dihabisi Basrah.

Setelah mandi dan mengganti pakain, lelaki gemuk ini meminta doa dari istrinya. Semoga hari ini jualannya sebagai pedagang kaki lima: laris. Basrah mendorong gerobaknya.

Tepat pukul tujuh pagi: Basrah tiba dengan wajah basah, berkeringat. Didorong, lalu ditarik sedikit gerobaknya. Gerobak itu pun sudah di posisi tepat pada tempatnya. Di atas trotoar jalanan. Dekat pantai di kotanya.

Tiga bulan ke depan, Basrah sudah lima belas tahun menjual mi pangsit di lokasi ini. Ada sekitar tiga puluh gerobak berjajar di trotoar ini dengan jualan yang berbeda. Pak Wali silih berganti memimpin kota ini, Basrah sesama pedagang kaki lima lainnya: merasa aman-aman saja. Bahkan pernah ada wali kota singgah di gerobak miliknya menikmati mi pangsitnya.

***

Pagi itu, Basrah memohon untuk didoakan agar jualannya laris, sang istri tidak mengindahkannya. Dalam hati kecilnya, dia ingin menyampaikan kepada suaminya: tidak usah pergi menjual hari ini, tetapi dia tak sanggup mengucapkan kata-kata itu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (17): Menteri Tak Tahu, Tuhan Tahu

Saat Basrah mendorong gerobaknya menuju kota, sang istri memandangnya dari teras rumah sembari merenung dan berharap agar mimpinya tidak menjadi kenyataan. “Ya Allah Ya Rabb, semoga mimpi saya semalam hanya halusinasi. Semacam bunga-bunga tidur saja.” Sang Istri menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan.

Mimpi itu: sang istri melihat Pak Wali bertubuh besar berdiri memandang kotanya. Seperti raksasa. Wajahnya beringas. Sungguh menakutkan. Di depannya puluhan buldoser sedang menyerbu dan membumihanguskan kedai-kedai dan gerobak milik para pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan dalam kota. Tak satu pun pedagang yang memprotes dan melawan kerakusan buldoser-buldoser itu. Tampak Pak Wali terbahak-bahak melihat kelincahan buldoser menggusur lokasi para pedagang yang menempati tanah milik negara. “Memangnya ini tanah dan lokasi milik nenek moyangmu?” Pak Wali berteriak lantang di belakang buldoser yang sedang mencengkram kedai-kedai milik rakyatnya.

***

Hari ini Basrah pulang lebih cepat bila dibandingkan hari-hari kemarin. Dia pulang menjelang sore tanpa gerobak.

Istrinya menyambutnya di teras. Terbayang mimpinya semalam. Dia tidak akan menceritalan mimpi itu kepada suaminya.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

Tatapannya tajam kepada suaminya. Kegelisahan tak mampu dia sembunyikan. “Pa, mengapa pulangnya cepat. Mi pangsitnya laris dan habis ya, Pa?” Mendengar pertanyaan istrinya, suaminya berjalan tanpa semangat. Dia langsung masuk ke dalam rumah. Menuju ruang tamu. Duduk di kursi kayu.

“Ma, jualan kita bukan laris, tapi semuanya tertumpah saat gerobak kita dihancurkan buldoser.” Basrah menggigit bibirnya. Matanya lembab.

“Buldoser?”

“Ya, buldoser-buldoser mirip pasukan militer itu telah mengepung kota untuk menghancurkan kedai dan gerobak di pinggir-pinggir jalan.”

“Siapa perintahkan buldoser itu bergerak tanpa ampun bagi pedagang kaki lima, Pa?”

“Pak Wali, Ma.”

“Mengapa Pak Wali tega kepada rakyat kecil yang mencari rezeki?”

“Kami memang, para pedagang kaki lima, bersalah, Ma. Lokasi yang kami tempati milik negara, Ma. Rakyat kecil tak boleh berjualan di trotoar, itu milik negara, Ma.”

“Ah.., itu para pebisnis besar. Orang-orang kaya. Konglomerat. Telah menguasai tanah negara. Bahkan laut pun dijadikan lokasi perumahan mewah. Pak Wali hanya berani kepada rakyat kecil. Rakyat lapisan bawah. Seperti kita. Tak ada kekuatan untuk melawan. Coba kalau Pak Wali punya nyali: lawan itu, mereka yang rakus.”