“Ma, jualan kita bukan laris, tapi semuanya tertumpah saat gerobak kita dihancurkan buldoser.” Basrah menggigit bibirnya. Matanya lembab.
“Buldoser?”
“Ya, buldoser-buldoser mirip pasukan militer itu telah mengepung kota untuk menghancurkan kedai dan gerobak di pinggir-pinggir jalan.”
“Siapa perintahkan buldoser itu bergerak tanpa ampun bagi pedagang kaki lima, Pa?”
“Pak Wali, Ma.”
“Mengapa Pak Wali tega kepada rakyat kecil yang mencari rezeki?”
“Kami memang, para pedagang kaki lima, bersalah, Ma. Lokasi yang kami tempati milik negara, Ma. Rakyat kecil tak boleh berjualan di trotoar, itu milik negara, Ma.”
“Ah.., itu para pebisnis besar. Orang-orang kaya. Konglomerat. Telah menguasai tanah negara. Bahkan laut pun dijadikan lokasi perumahan mewah. Pak Wali hanya berani kepada rakyat kecil. Rakyat lapisan bawah. Seperti kita. Tak ada kekuatan untuk melawan. Coba kalau Pak Wali punya nyali: lawan itu, mereka yang rakus.”
“Sudahlah, Ma.”
“Saya menyesal memilih dia dulu saat pemilihan wali kota, Pa.”
“Tidak boleh begitu, Ma. Setiap wali kota memang berbeda visinya. Ada Pak Wali membiarkan tumbuh para pedagang kaki lima, meski lokasinya di trotoar, yang penting bersih. Tetapi Pak Wali kita yang baru ini, visinya ingin melihat kotanya indah dan bersih tanpa pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan. Baginya, kami itu jorok dan tak pantas hidup dari tanah negara, Ma.”
Sang Istri diam. Merenung. Membayangkan mimpinya: tentang Pak Wali terbahak-bahak di belakang buldoser. *****
——————
Cerita ini hasil revisi. Sebelumnya pernah dimuat di sebuah media.

br
br






br





