Sekira tiga tahun lalu. Usaha dagang beras dan gula merahnya tiba-tiba sepi pengunjung. Pelanggannya selama ini hanya lewat di depan lodsnya. Sekadar melirik-lirik beras dan gula merah yang dipajang. Tak lagi banyak yang mampir membelinya. Melihat pemandangan ini berbulan-bulan lamanya, Haji Beni merasa heran. Ada apa, sehingga pembelinya jadi sepi?
Haji Beni mulai melacak kenyataan pahit ini. Dia curiga ada pedagang lain merasa iri dengan dagangannya yang laris. Tapi apa yang dilakukan pedagang itu, sehingga mampu membuat pelanggannya tak lagi berminat membeli beras dan gula merahnya?
Insting dan siasat Haji Beni mulai bekerja. Suatu hari dia mendekati seorang pemuda pasar yang bekerja sebagai tukang parkir. Lelaki yang tak suka memakai baju ini, di pasar, dipanggil dengan nama Dindong.
“Dindong, sebentar malam kau ke rumah. Ada yang aku ingin bicarakan.” Haji Beni mengajak Dindong ke rumahnya. Pemuda ini merasa gembira dengan ajakan Haji Beni. Dalam hatinya, pasti Haji Beni mau memberikan uang. Dindong memang biasa ke rumah Haji Beni untuk menerima sedekah.
“Pasti aku datang, Pak Haji.” Dindong merespon ajakan Haji Beni dengan raut wajah senyum terkulum sembari tertunduk hormat.
Sekitar pukul delapan malam, Dindong memenuhi janjinya. Dia tak perlu mengetuk pintu. Haji Beni, usai menjalankan salat isya, dia sudah duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan Dindong.
Kali ini Dindong memakai baju kaos berwarna hitam. Dia disambut Haji Beni dengan menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Dindong mencium tangan Haji Beni dengan lembut, penuh hormat. Dia pun dipersilakan duduk di kursi di teras yang sejuk itu. Pekarangan Haji Beni penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Selain bunga-bunga berjajar rapi, juga ada pohon mangga dan pohon kersen yang dahannya menjuntai dengan daunnya yang rindang. Angin menerpa-nerpa hingga ke teras.
“Dindong, apa kau sudah tahu mengapa aku memanggilmu malam ini?”
“Belum tahu, Pak Haji.”
“Begini, Dindong.”
“Iya, Pak Haji.”
“Akhir-akhir ini pelangganku makin kurang yang datang membeli beras dan gula merahku. Apakah kau tahu penyebabnya?”
“O, masalah itu, Pak Haji.”
“Iya, apa kau tahu penyebabnya?”
Dindong menatap lurus. Mengingat-ingat sesuatu. Kini matanya beralih ke mata Haji Beni. “Tapi jangan bilang-bilang, Pak Haji, kalau aku yang ceritakan.”
“Tentu tidak, Dindong. Ceritakanlah.” Haji Beni mendekatkan kursinya ke kursi Dindong.
“Aku pernah mendengar, ada beberapa pedagang di pasar yang menyebarkan informasi ke pengunjung pasar. Katanya, beras yang dijual Haji Beni memang bagus dan murah. Tapi beras itu kalau dimasak lalu dimakan, membuat orang selalu lapar. Dan mau makan terus, sehingga beras cepat habis. Begitu juga gula merahnya. Gula merah itu memang kelihatan besar, tapi ada lubang di dalamnya. Dan fatalnya lagi, Haji Beni selama ini memakai jimat pelaris. Tentu beras dan gula merah itu tidak berkah dimakan karena jimat itu hasil persekutuan dengan jin. Jin setan. Begitu yang pernah aku dengar, Pak Haji.”

br
br






br





