“Pasti aku datang, Pak Haji.” Dindong merespon ajakan Haji Beni dengan raut wajah senyum terkulum sembari tertunduk hormat.
Sekitar pukul delapan malam, Dindong memenuhi janjinya. Dia tak perlu mengetuk pintu. Haji Beni, usai menjalankan salat isya, dia sudah duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan Dindong.
Kali ini Dindong memakai baju kaos berwarna hitam. Dia disambut Haji Beni dengan menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Dindong mencium tangan Haji Beni dengan lembut, penuh hormat. Dia pun dipersilakan duduk di kursi di teras yang sejuk itu. Pekarangan Haji Beni penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Selain bunga-bunga berjajar rapi, juga ada pohon mangga dan pohon kersen yang dahannya menjuntai dengan daunnya yang rindang. Angin menerpa-nerpa hingga ke teras.
“Dindong, apa kau sudah tahu mengapa aku memanggilmu malam ini?”
“Belum tahu, Pak Haji.”
“Begini, Dindong.”
“Iya, Pak Haji.”
“Akhir-akhir ini pelangganku makin kurang yang datang membeli beras dan gula merahku. Apakah kau tahu penyebabnya?”
“O, masalah itu, Pak Haji.”
“Iya, apa kau tahu penyebabnya?”
Dindong menatap lurus. Mengingat-ingat sesuatu. Kini matanya beralih ke mata Haji Beni. “Tapi jangan bilang-bilang, Pak Haji, kalau aku yang ceritakan.”
“Tentu tidak, Dindong. Ceritakanlah.” Haji Beni mendekatkan kursinya ke kursi Dindong.
“Aku pernah mendengar, ada beberapa pedagang di pasar yang menyebarkan informasi ke pengunjung pasar. Katanya, beras yang dijual Haji Beni memang bagus dan murah. Tapi beras itu kalau dimasak lalu dimakan, membuat orang selalu lapar. Dan mau makan terus, sehingga beras cepat habis. Begitu juga gula merahnya. Gula merah itu memang kelihatan besar, tapi ada lubang di dalamnya. Dan fatalnya lagi, Haji Beni selama ini memakai jimat pelaris. Tentu beras dan gula merah itu tidak berkah dimakan karena jimat itu hasil persekutuan dengan jin. Jin setan. Begitu yang pernah aku dengar, Pak Haji.”
Haji Beni bernapas panjang mendengar cerita Dindong. Dia lalu masuk ke dalam rumah. Membuka dompetnya. Mengambil dua lembar uang kertas. Memberikannya ke Dindong.
“Terima kasih informasinya, Dindong. Jangan ceritakan ke orang kalau aku memanggilmu malam ini.”
“Terima kasih juga, Pak Haji. Aku juga memohon kepada Pak Haji tidak menyampaikan ke penjual di pasar kalau aku membocorkan informasi itu.”
“Ada pesanku kepadamu, Dindong.”
“Apa, Pak Haji.”
“Mulai sekarang ketika kau memarkir kendaraan pengunjung, yakinkan dan ceritakan mereka, jualan beras dan gula merahku memang murah dan berkualitas. Sampaikan juga, banyak penjual di pasar ini merasa iri kepadaku dengan menyiarkan kabar bohong, tentang jimat jin itu.”
“Iya, Pak Haji. Mulai besok aku akan yakinkan pengunjung pasar.”
Dindong pergi dengan senang hati karena menerima uang kertas dua lembar. Haji Beni menutup pintu pagar. Masuk ke dalam rumah. Perasaannya tak menentu.
***
Pagi-pagi Haji Beni sudah masuk pasar. Duduk termenung di lodsnya. Sekali-sekali matanya memandang menerawang. Dalam benaknya, sepinya pembeli beras dan gula merahnya akhir-akhir ini bukan karena adanya gosip jin setan, seperti yang diceritakan Dindong, malam itu, di rumahnya. “Mungkin Dindong hanya mengarang cerita. Dia dapat menangkap dugaan-dugaanku. Ceritanya bertujuan membuatku merasa terpanggil untuk memberikan uang padanya. Dindong, meski tukang parkir, namun memiliki kecerdasan dalam memahami arah pembicaraan dengan seseorang. Termasuk aku, misalnya.” Haji Beni menduga-duga.
Bila bukan jimat jin setan itu membuat dagangannya sepi pengunjung, lalu apa penyebabnya? Pertanyaan dalam benaknya itu tiba-tiba menemukan jawaban pada kabar yang selalu disampaikan tetangganya. “Jangan-jangan kabar yang sudah menyebar, termasuk yang sering dibisikkan tetanggaku, dan aku tak pernah mempercayai kebenarannya itu, justru benar terjadi. Aku masih ingat pesan leluhurku di kampung, bila ada suami yang berselingkuh atau istri yang berselingkuh, maka mulai saat itu akan terjadi keruntuhan rezeki bagi keluarga itu.” Haji Beni berbicara pada dirinya sendiri.












