FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

***

Satu minggu lagi Tuti harus meninggalkan Jakarta. Kembali ke kampungnya. Ibunya tak henti-hentinya menelepon: Tuti segera pulang. Diam-diam Tuti menyimpan sebuah pertanyaan untuk sepupunya yang selalu menemaninya, itu.

“Kak, siapa itu nenek-nenek yang biasa duduk di bangku kayu depan rumah?” Tuti bertanya kepada sepupunya.

“Oh itu. Nenek itu di sini dipanggil Mbah. Orangnya peduli kalau ada tamu saya datang ke rumah ini,” jawab sepupunya. “Memang ada apa?”

“Iya, betul dia sangat peduli. Setiap kita mau ke pusat kota menuju stasiun, selalu ada nasihatnya: ‘hati-hati di jalan, Nak. Nanti kecopetan, Nak. Banyak pencopet di kota, Nak.’ Begitu nasihat rutinnya. Hampir setiap kita bertemu nenek itu, selalu ada nasihatnya. Namanya siapa, Kak?”

“Mbah Tukiyem.

***

Tuti baru saja salat subuh di kamarnya. Dia lalu memeriksa ulang koper dan tasnya. Sebentar sore menuju ke pelabuhan. Hendak kembali ke Makassar. Sepupunya yang akan mengantarnya ke pelabuhan.

Seketika Tuti kaget. Dalam keheningan subuh itu ada orang yang mengetuk pintu dengan tergesa. Berulang ketukannya. “Siapa dan ada apa, ya?” Tuti bertanya dalam gumam.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (1) : Liem Ingin Mati di Rusia

Tuti membuka sedikit pintu kamarnya. Dia mengintip. Dilihatnya sepupunya bergegas membuka pintu.

“Oh, Mbah Tukiyem. Kirain siapa yang datang subuh ini. Ada apa, Mbah?” Sepupu Tuti bertanya dengan nada ramah.

Mbah Tukiyem membuka tas plastik berwarna hitam. “Nak, saya seharian naik bus kota. Keliling Jakarta. Saya baru pulang ini. Saya berhasil mencopet barang-barang berharga: tas, dompet kulit asli, arloji rolex, gelang perhiasan mewah, dan pulpen bermerek. Beli, Nak. Saya jual murah, Nak.” Mbak Tukiyem tersenyum. Merasa bangga telah mencopet.

“Tidak, Mbah. Lain kali aja ya, Mbah.” Sepupu Tuti enggan membeli barang hasil copet, itu.

Percakapan Mbah Tukiyem, Tuti mendengarnya secara jelas. “Mbah Tukiyem, nenek tua, itu?” Tuti bergumam. Mematung di balik pintu kamar. *****