Sport  

Dr H Alimuddin: Prestasi Dayung Harus Ditopang Pelatih dan Wasit Berkualitas

Makassar, NusantaraInsight — Pembinaan atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mereka di lintasan. Di belakang prestasi atlet, ada pelatih yang merancang program latihan dan wasit yang memastikan pertandingan berlangsung adil.

Kesadaran itu mendorong Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Sulawesi Selatan menggelar Penataran Pelatih dan Wasit se-Sulawesi Selatan Tahun 2026, di Makassar, 20–22 Agustus 2026.

Kegiatan dihadiri Ketua Umum PODSI Sulsel Dr. H. Alimuddin, S.H., M.Kn., jajaran pengurus, narasumber, serta pelatih dan wasit dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.

Bagi PODSI Sulsel, penataran menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia olahraga dayung secara berkelanjutan.

Alimuddin mengatakan, prestasi olahraga dayung tidak mungkin hanya dibebankan kepada atlet. Kualitas orang-orang yang mendampingi dan mengelola pertandingan juga menentukan perkembangan prestasi.

Pelatih, misalnya, harus mampu menerjemahkan target prestasi menjadi program latihan yang terukur. Mereka juga dituntut memahami perkembangan teknik, kondisi fisik, hingga psikologi atlet.

Pada saat yang sama, wasit memegang peran penting dalam menjamin pertandingan berlangsung sesuai aturan.

BACA JUGA:  Bekuk Tanjung Verde 3-2, Argentina Jajal Mesir di 16 Besar

“Peningkatan kualitas pelatih dan wasit menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan prestasi. Kita ingin pembinaan olahraga dayung di Sulawesi Selatan semakin terarah dan memiliki standar yang semakin baik,” kata Alimuddin.

Tiga Nomor Dayung

Penataran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Peserta memperoleh materi teori sekaligus praktik lapangan.

Materi kepelatihan menyentuh tiga disiplin olahraga dayung, yakni Traditional Boat Race (TBR), canoeing, dan rowing.

Pada hari pertama, Kamis (20/8/2026), peserta mengikuti registrasi, pre-test, pembukaan, kemudian mendapatkan materi psikologi olahraga dari Prof. Dr. H. Nukhrawi Nawir, M.Kes., AIFO.

Materi kemudian semakin teknis pada Jumat (21/8/2026).

Kelompok pelatih mempelajari teknik dan metodologi melatih TBR, canoeing, dan rowing. Peserta juga menjalani simulasi lapangan serta belajar menyusun program latihan.

Adapun kelompok wasit mendalami peraturan pertandingan canoeing dan rowing, termasuk etika serta psikologi perwasitan.

Rangkaian kegiatan berlanjut Sabtu (22/8/2026). Pelatih menjalani simulasi lapangan, sementara peserta penataran wasit mengikuti praktik perwasitan. Evaluasi dilakukan melalui post-test pada akhir kegiatan.

BACA JUGA:  Pemilik Baru MU Target Runtuhkan Dominasi Man City dan Liverpool

Model pelatihan teori dan praktik tersebut diharapkan membuat peserta tidak sekadar memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya setelah kembali ke daerah masing-masing.