Anton menyaksikannya. Dia merenung. “Mengapa koruptor itu disambut ribuan orang seakan pahlawan. Dielu-elukan seperti jagoan yang diharap menjadi pemimpin, agar negeri ini bebas dari praktik korupsi, agar ada keadilan di negeri ini. Sementara saya bromocorah saat keluar dari penjara, hanya istri dan anak saya yang datang menjemput. Masyarakat mengucilkan saya. Mereka tak mau paham tentang pertobatan saya. Mereka tak mau menerima kehadiran saya di lingkungannya. Berbeda koruptor miliaran itu…”
Anton bergumam: benar, saya perampok yang telah membunuh tujuh orang. Saya telah menikmati harta-hartanya. Hasil rampokan itu. Tapi kau, koruptor, telah mengambil uang negara miliaran rupiah. Bukankah itu berarti kau, koruptor, telah membunuh jutaan rakyat? *****












