FIKSI MINI (7): Jejak Seorang Jurnalis

Oleh Andi Wanua Tangke

Pemuda Maula dikenal sebagai wartawan di kota kelahirannya. Surat kabar harian tempat kerjanya itu bervisi peristiwa dan kriminal. Tiap pagi korannya laris di pasaran lantaran berita utamanya selalu mengungkap peristiwa kriminal, misalnya kasus pembunuhan. Kalau bukan kriminal, biasanya kasus korupsi yang dibesar-besarkan. Tak sungkan-sungkan membongkar skandal korupsi yang melibatkan pejabat di kotanya. Wartawan yang bekerja di koran itu dikenal militan melacak kasus, termasuk Maula.

Maula senang bekerja di koran itu lantaran sebagian besar beritanya membutuhkan investigasi. Maula tak suka menulis berita pembangunan, misalnya kesuksesan seorang pejabat membangun daerahnya. Baginya, hal itu memang tanggung jawab seorang pejabat atau pemimpin pemerintahan. Maula menganggap kesuksesan pejabat itu bukan sebuah berita yang menarik. Menarik baginya bila sang pejabat terlibat dalam sebuah peristiwa korupsi atau pelanggaran lainnya.

Pagi itu tersiar kabar terjadi peristiwa pembunuhan yang berlatar belakang skandal percintaan. Kejadiannya di sebuah ibu kota kabupaten. Pemimpin redaksi koran itu pun menggelar rapar redaksi. Koran ini tak mau tertinggal mengungkap peristiwa itu dengan data-data yang akan dilengkapi foto-foto aktual. Sejumlah wartawan, termasuk Maula, ikut dalam rapat redaksi, itu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

Tentang tragisnya peristiwa itu, seorang wartawan berbicara dalam rapat redaksi. Dia mengisahkannya dengan harapan pemimpin redaksinya tertarik mengangkat pembunuhan itu menjadi laporan utama di korannya.

“Seorang camat menjalin asmara dengan staf di kantornya. Sang Camat sudah punya istri dan tiga anak. Si Staf sudah punya suami dan dua anak. Hubungan cinta terlarang keduanya sudah berjalan sekitar satu tahun. Semua pegawai di kantor camat mengetahui skandal ini. Tak satu pun pegawai yang berani menceritakannya. Keduanya merasa aman menikmati buah terlarang. Keduanya bangga akan dosa-dosa. Suatu sore menjelang magrib, saat itu hujan lebat, suami si staf merasa heran: mengapa istrinya belum pulang ke rumah. Dia lalu berinisiatif menemui seorang sahabat istrinya yang juga teman kantornya. Dia mendapat jawaban: istrinya masih di kantor bersama Pak Camat. Sang Suami mulai punya firasat mencurigakan. Dadanya berdebar-debar. Tak berpikir panjang lagi, dia menembus hujan lebat dengan berlari kencang menuju kantor camat. Waktu magrib sudah lewat, baru dia tiba. Dia melihat ada motor dinas Pak Camat tersembunyi di bawah pohon mangga di samping kantor. Tak satu pun lampu menyala. Gelap. Sang Suami mengendap-endap. Kini sudah berada tepat di bawah jendela ruang kerja Pak Camat. Telinganya difokuskan sebagai radar. Terdengar suara berbisik-bisik. Sang Suami segera meninggalkan kantor itu. Berlari kencang. Menceritkannya ke sejumlah tokoh masyarakat. Tak lama kemudian, berkumpullah ratusan warga dengan senjata tajam di tangan. Ada juga yang membawa bambu runcing dan potongan balok kayu. Dengan semangat pengadangan, seperti hendak memburu babi hutan, warga ini mulai beringas. Tiba di kantor camat, mereka mengepungnya. Sang Suami berteriak: ada dua binatang di dalam kantor ini. Terus diulang. Teriakan itu membakar amarah warga. Tiga pintu kantor itu tiba-tiba dirobohkan. Ratusan warga itu berdesakan memasuki tiga ruangan. Si istri ditemukan di bawah meja terpelungkup. Perempuan itu dipukul ramai-ramai. Kini warga belum menemukan Pak Camat. Tiga ruangan sudah digeledah, namun belum ditemukan. Kamar mandi yang terkunci pintunya, dicurigai bersembunyi di situ. Ketika pintunya dibuka paksa, Pak Camat angkat tangan menyerah dan minta ampun. Warga dengan wajah-wajah marah tak menghiraukan ampunannya. Seketika warga menggiringnya seperti binatang ke luar dari kamar mandi. Keduanya pun ditinggalkan di dalam kantor camat dalam keadaan berdarah dan kehilangan napas.”