Maula mencuci wajahnya dan kakinya. Dia lalu mengganti pakaiannya. Kini dia sudah berbaring. Maula tak mematikan lampu kamar. Matanya menatap seekor cicak. Dia merasa mata cicak itu juga sedang menatapnya. Seketika cicak itu berbunyi sembari meninggalkan tempatnya. Kini berada di plafon, tepat di atas Maula.
Maula terus gelisah. Matanya terpejam, tapi tak bisa tertidur. Berbagai macam pikiran mensesaki benaknya. Termasuk dia meragukan apa betul manusia yang menunjukkan kamar 33 ini untuk ditempatinya malam ini. Dia pun membayangkan orang yang mengaku pegawai hotel itu memakai sarung, dan tertunduk, seakan menyembunyikan wajahnya, saat menyerahkan kunci kamar hotel.
***
Sayup-sayup Maula mendengar suara azan. Dia bangkit dari pembaringan yang tak memberinya rasa kantuk sedikit pun. Dia ke kamar mandi. Mengusap wajahnya dengan air
berwarna keruh. Kembali memerhatikan sudut-sudut kamar. Keningnya berkerut. Perasaannya pusing. Dia merasa seakan kamar tempatnya menginap berputar-putar. Mungkin hal itu disebabkan semalam tak pernah menikmati tidur. Dia melihat kedua sikunya, bulu kuduknya merinding. Dengan langkah pelan, dia menuju pintu kamar. Kuncinya diputar dua kali. Pintu berwarna hijau muda itu terbuka lebar. Diperhatikannya sepanjang lorong hotel yang disinari lampu temaram. Tak ada orang yang dilihat. Hanya jajaran pintu kamar yang terlihat. Ketika hendak menutup pintu kamarnya kembali, seekor kucing berwarna hitam berlari-lari menuju ke arahnya. Cepat-cepat Maula menutupnya dengan rapat. Dari dalam kamar, Maula mendengar kucing itu mengeong tiga kali. Setelah itu tak ada lagi suaranya. “Mungkin kucing itu lapar…” Maula bergumam.
Maula kembali masuk ke kamar mandi. Dia mengambil air wudhu. Dia mendirikan salat sunnah fajar, lalu dilanjutkan dengan salat subuh. Dia merasakan salatnya tidak khusyuk, lantaran pikirannya tak bisa berkonsentrasi. Berbagai macam pikiran mensesaki benaknya.
Maula melihat jam tangannya di samping bantal. Jarumnya sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia turun ke lantai satu. Dia memberikan kunci kamar dan membayar biaya kamar kepada seorang pegawai hotel. Pegawai hotel itu menyerahkan kembali KTP milik Maula.
“Bapak hanya menginap satu malam di hotel ini?” Pegawai hotel itu bertanya.
“Iya, hanya satu malam, Pak.” Maula menjawab dengan wajah malas.
“Kalau ke kota ini langsung saja ke hotel ini, Pak.”
“Aku tak mau lagi menginap di hotel ini.”
Pegawai hotel itu terkejut mendengar jawaban Maula. “Memangnya kenapa, Pak?”
“Hotel ini angker, ya?”
“O, hotel ini tidak angker. Lihat saja semua kamar penuh dengan tamu.”












