berwarna keruh. Kembali memerhatikan sudut-sudut kamar. Keningnya berkerut. Perasaannya pusing. Dia merasa seakan kamar tempatnya menginap berputar-putar. Mungkin hal itu disebabkan semalam tak pernah menikmati tidur. Dia melihat kedua sikunya, bulu kuduknya merinding. Dengan langkah pelan, dia menuju pintu kamar. Kuncinya diputar dua kali. Pintu berwarna hijau muda itu terbuka lebar. Diperhatikannya sepanjang lorong hotel yang disinari lampu temaram. Tak ada orang yang dilihat. Hanya jajaran pintu kamar yang terlihat. Ketika hendak menutup pintu kamarnya kembali, seekor kucing berwarna hitam berlari-lari menuju ke arahnya. Cepat-cepat Maula menutupnya dengan rapat. Dari dalam kamar, Maula mendengar kucing itu mengeong tiga kali. Setelah itu tak ada lagi suaranya. “Mungkin kucing itu lapar…” Maula bergumam.
Maula kembali masuk ke kamar mandi. Dia mengambil air wudhu. Dia mendirikan salat sunnah fajar, lalu dilanjutkan dengan salat subuh. Dia merasakan salatnya tidak khusyuk, lantaran pikirannya tak bisa berkonsentrasi. Berbagai macam pikiran mensesaki benaknya.
Maula melihat jam tangannya di samping bantal. Jarumnya sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia turun ke lantai satu. Dia memberikan kunci kamar dan membayar biaya kamar kepada seorang pegawai hotel. Pegawai hotel itu menyerahkan kembali KTP milik Maula.
“Bapak hanya menginap satu malam di hotel ini?” Pegawai hotel itu bertanya.
“Iya, hanya satu malam, Pak.” Maula menjawab dengan wajah malas.
“Kalau ke kota ini langsung saja ke hotel ini, Pak.”
“Aku tak mau lagi menginap di hotel ini.”
Pegawai hotel itu terkejut mendengar jawaban Maula. “Memangnya kenapa, Pak?”
“Hotel ini angker, ya?”
“O, hotel ini tidak angker. Lihat saja semua kamar penuh dengan tamu.”
“Semalam aku tak bisa tidur. Di kamar, bulu kudukku merinding. Seperti ada setan.”
“Ah, tidak ada setan di hotel ini. Kami secara rutin selalu menggelar pengajian di ruang aula hotel, Pak.”
“Ada setan di hotel ini, khususnya di kamar tempat aku menginap.”
“Bapak di kamar nomor berapa?”
“Di kamar 33 lantai dua.”
Mendengar kamar 33, pegawai itu mengambil kembali kunci kamar yang sudah disimpan di laci mejanya. Dia memerhatikan papan kecil yang tergantung di kunci kamar itu. “Benar, kamar 33. Kamar itu kan belum bisa ditempati…” Pegawai itu membatin.
“Ada apa, Pak?”
“Tidak apa-apa. Kamar 33 yang Bapak tempati itu termasuk kamar bagus, Pak.” Pegawai hotel itu menjawab dengan gugup.
***
Mulai pagi hingga sore Maula fokus melacak peristiwa pembunuhan seorang camat bersama staf perempuannya. Foto-foto lokasi dan foto-foto kedua korban sudah lengkap di tangan Maula. Investigasinya sangat mendalam. Detail. Dia bergerak sebagai jurnalis yang bergaya intelijen. Dia membayangkan korannya akan gempar dan laris manis di pasaran, setelah berita itu dimuat sebagai laporan utama di halaman satu.
Terakhir Maula menuju kantor polisi. Meski data-data beritanya sudah lengkap, namun baginya berita itu tak utuh bila tak ada keterangan dari pihak kepolisian sebagai konfirmasi.
Maula tiba di kantor polisi. Dia langsung menuju ruangan Kapolres. Ketika ajudan mengetahui Maula adalah seorang wartawan dari koran terkenal dan berani, Sang Ajudan memersilakan Maula duduk sebentar. Ajudan itu menemui Kapolres. Menyampaikan tentang kedatangan seorang wartawan.
Maula dipersilakan masuk ke ruangan Kapolres. Maula senang lantaran Kapolres menceritakan secara detail peristiwa tewasnya Pak Camat bersama staf perempuannya secara tak wajar di kantor camat.
Merasa sudah lengkap konfirmasinya, Maula pamit kepada Kapolres yang ramah itu.












