FIKSI MINI (7): Jejak Seorang Jurnalis

***

Pemimpin Redaksi, usai mendengar cerita seorang wartawannya, tertarik mengangkat peristiwa itu menjadi laporan utama di korannya. Dia segera mengutus seorang wartawan untuk melakukan investigasi mendalam di daerah kejadian.

“Apakah Maula berminat menginvestigasi kasus ini?” Pemimpin Redaksi itu bertanya, berharap kesediaan Maula.

Maula diam sejenak. Teman-temannya, peserta rapat redaksi, fokus mememandangi Maula yang belum memberikan jawaban kesiapan. Mereka berharap Maula menerima tantangan ini. Mereka juga merasa yakin Maula sanggup mengivestigasi peristiwa peselingkuhan yang melibatkan Pak Camat dan stafnya. Maula adalah wartawan cerdas. Dia alumni pendidikan jurnalistik khususnya ilmu investigasi yang pernah diadakan organisasi PWI, Persatuan Wartawan Indonesia, tingkat nasional.

“Insya Allah, siap, Pak.” Pemimpin Redaksi tersenyum mendengar kesiapan Maula. Teman-temannya pun setuju dan senang akan kesiapan Maula, itu.

Esoknya, Maula melengkapi surat tugas dan biaya keberangkatannya. Dia akan menumpangi mobil angkutan umum. Jarak antara kotanya ke kabupaten tempat peristiwa itu sekitar 300 km.

Sore, Maula ke terminal mobil. Dia memilih bus besar. Perjalanannya lancar dengan dua kali singgah di warung langganan sopir bus yang ditumpangi itu.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

Tak terasa, tengah malam, bus itu sudah tiba di ibu kota kabupaten yang dituju Maula. Banyak penumpang menkmati tidurnya sambil duduk di kursi. Maula tak bisa memejamkan matanya. Dia kehilangan kantuk.

Seorang kondektur bertubuh kurus dengan rambut berdebu mendekati Maula. “Singgah di mana?” Mendengar pertanyaan itu, Maula bingung mau menjawab apa.

Setelah berpikir, Maula balik bertanya. “Di mana ada hotel murah di kota kabupaten ini?”

Kondektur itu menatap wajah Maula. Tak lama setelah itu, dia melangkah menemui sopir bus. “Seorang penumpang mau menginap di hotel murah. Dia mau singgah di hotel itu.” Tanpa menjawab pertanyaan kondekturnya, sopir itu menuju lokasi hotel.

Bus berhenti di depan hotel. Bangunan hotel itu sudah tua. Lampunya redup. Cahayanya agak kekuningan. Maula membayar sewa mobil. Menjinjing tasnya. Beberapa kali dia ketuk pintu hotel, baru datang seorang pegawainya membukakan pintu. Pegawai itu mengusap-usap matanya dengan telapak tangannya. Setelah melihat KTP milik Maula, dia lalu memersilakan Maula ke kamar 33 di lantai dua.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (6) : Pura-Pura Bermoral

Maula membuka pintu kamar hotel. Dia menguncinya dari dalam. Ada dua tempat tidur model bangku. Sepreinya kusut. Dua bantalnya agak berjauhan tempatnya. Mata Maula memandangi suasana kamar dengan lampu temaram. Dia melangkah ke kamar mandi. Baknya tak berair, kering. Dia mencoba memutar kran, air pun lancar mengisi bak. “Alhamdulillah…” Maula bergumam syukur.