“Semalam aku tak bisa tidur. Di kamar, bulu kudukku merinding. Seperti ada setan.”
“Ah, tidak ada setan di hotel ini. Kami secara rutin selalu menggelar pengajian di ruang aula hotel, Pak.”
“Ada setan di hotel ini, khususnya di kamar tempat aku menginap.”
“Bapak di kamar nomor berapa?”
“Di kamar 33 lantai dua.”
Mendengar kamar 33, pegawai itu mengambil kembali kunci kamar yang sudah disimpan di laci mejanya. Dia memerhatikan papan kecil yang tergantung di kunci kamar itu. “Benar, kamar 33. Kamar itu kan belum bisa ditempati…” Pegawai itu membatin.
“Ada apa, Pak?”
“Tidak apa-apa. Kamar 33 yang Bapak tempati itu termasuk kamar bagus, Pak.” Pegawai hotel itu menjawab dengan gugup.
***
Mulai pagi hingga sore Maula fokus melacak peristiwa pembunuhan seorang camat bersama staf perempuannya. Foto-foto lokasi dan foto-foto kedua korban sudah lengkap di tangan Maula. Investigasinya sangat mendalam. Detail. Dia bergerak sebagai jurnalis yang bergaya intelijen. Dia membayangkan korannya akan gempar dan laris manis di pasaran, setelah berita itu dimuat sebagai laporan utama di halaman satu.
Terakhir Maula menuju kantor polisi. Meski data-data beritanya sudah lengkap, namun baginya berita itu tak utuh bila tak ada keterangan dari pihak kepolisian sebagai konfirmasi.
Maula tiba di kantor polisi. Dia langsung menuju ruangan Kapolres. Ketika ajudan mengetahui Maula adalah seorang wartawan dari koran terkenal dan berani, Sang Ajudan memersilakan Maula duduk sebentar. Ajudan itu menemui Kapolres. Menyampaikan tentang kedatangan seorang wartawan.
Maula dipersilakan masuk ke ruangan Kapolres. Maula senang lantaran Kapolres menceritakan secara detail peristiwa tewasnya Pak Camat bersama staf perempuannya secara tak wajar di kantor camat.
Merasa sudah lengkap konfirmasinya, Maula pamit kepada Kapolres yang ramah itu.
“Kapan rencana kembali ke kota?” Kapolres bertanya.
“Rencana sebentar malam, Pak.” Maula menjawab singkat.
“Sewa kamar hotelnya kami yang bayar. Nanti ajudan menemui pegawai hotel itu.”
“Tak usah, Pak. Aku sudah membayarnya. Terima kasih.”
“Nginapnya di hotel mana?”
Maula menjelaskan alamat hotelnya. Dia juga menyampaikan tentang janjinya yang tak akan mau lagi menginap di hotel itu.
“Memangnya kenapa?”
“Hotel itu angker. Semalam aku tak bisa tidur. Aku merasa ada hantu di kamar yang aku tempati.”
“O, begitu. Sepengetahuanku hotel itu bagus dan aman. Lokasinya di tengah kota. Bangunannya memang sudah tua. Kalau ada tamuku dari kota, biasanya di hotel itu menginap. Hanya akhir-akhir ini aku sarankan tamuku dari kota jangan memilih kamar 33. Oya, kau nginap di kamar nomor berapa, bukan kamar 33, kan?”












