Prof. Aminuddin, lalu menoleh ke bangunan berbentuk rumah panggung, yang berada di sisi timur, dekat pagar. Bangunan kayu, yang berbatasan dengan jalan raya itu, merupakan Baruga Pusakaya, artinya Pusat Suaka dan Budaya. Di atas bangunan itu, terpampang silsilah keluarga besar dan keturunan Syekh Yusuf. Baruga Pusakaya, jelas Prof. Aminuddin Salle, diresmikan oleh Vice President SDM & Talenta Sulawesi PT PLN, Mudhakir Al Salman.
“Saya kasi gelar beliau, Tumalakbiritta, yakni orang yang dimuliakan. Bisa juga merupakan pengertian yang bersifat metafora,” terang Karaeng Patoto.
Beliau kemudian mengenang, kawasan ini beberapa tahun lalu. Katanya, dahulu tempat ini gelap gulita. Mudhakir Al Salman, datang mencari mitra untuk berdiskusi karena beliau punya perhatian besar pada pemajuan kebudayaan. Prof. Aminuddin Salle menyampaikan, kondisi BBrG yang sebenarnya bahwa kalau subuh dan malam, lokasinya gelap gulita. Singkat cerita, BBrG selanjutnya berkolaborasi melalui program corporate social responsibility (CSR) PLN. Berkat program tanggung jawab sosial itu, dibangun taman baca dan memberi honor petugasnya, termasuk petugas kebersihan sungai. Bantuan CSR itu maksudnya merupakan dana stimulan, nanti diteruskan oleh Pemda. Namun, kenyataannya, harapan itu tidak terlaksana.
“Jadi ketika Takalar masih gelap, kami di sini seperti kota kecil kalau malam hari,” kisah Karaeng Patoto memancarkan rona kebahagiaan.
Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-58, pada tahun 2018, pemerintah Kabupaten Takalar memberikan PIAGAM PENGHARGAAN kepada Prof. Dr. H. Aminddin Salle, akademisi dan budayawan Nusantara, atas pengabdian dan jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Takalar. Piagam penghargaan tertanggal 10 Februari 2018 itu, ditandatangani oleh Bupati Takakar, H. Syamsari, S.Pt, MM, dan Wakil Bupati Takalar, H. Achmad Dg Se’re, S.Sos. (*)

br
br






br





