Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong

Begitu peletakan batu pertama, kata beliau, langsung masuk sumbangan. Peletakan batu pertama Masjid Al-Amin BBrG, dilakukan oleh Bupati Takalar, Syamsari Kitta, pada 1 Juli 2018. Hanya dalam rentang lebih setahun, masjid pun diresmikan, tepat pada 27 Oktober 2019, juga oleh Syamsari Kitta. Acara peresmian bersamaan dengan kunjungan Bupati Takalar, saat kegiatan Gema Tasamara Camp 2019.

Kawasan BBrG ini, memang dipersiapkan oleh Karaeng Patoto sebagai lokasi pengembangan dan pelestarian adat, budaya, nilai-nilai konstitusi dalam falsafah dan kearifan kultural Makassar, serta seni dan aksara Lontarak Mangkasarak. Apa yang dilakukan Karaeng Patoto telah ditulis dan didokumentasikan dalam buku berjudul Aminuddin Salle: Sang Pelestari Aksara, karya Abdul Jalil Mattewakkang, S,Pd, MH, MM, Muhammad Iqramsyah Djalil, dan Muhammad Asmin Rahman, terbit tahun 2023.

Terkait pembelajaran aksara Lontarak Mangkarak ini, Karaeng Patoto punya pendekatan tersendiri. Beliau mewajibkan mereka yang berkunjung di BBrQ menuliskan namanya dalam aksara Lontarak Mangkasarak, sebelum meninggalkan lokasi. Ini misalnya, pernah dialami mahasiswa asal Malaysia yang sedang studi di Universitas Hasanuddin, saat mahasiswa asal negeri jiran itu diajak ke Balla Barakka. Begitupun dengan tentara Filipina, dan Direktur Pariwisata Kemenpar-Ekraf RI, diwajibkan menuliskan namanya dalam aksara Mangkasarak, sebelum meninggalkan tempat.

BACA JUGA:  KEBIASAAN MEMBACA.

Delegasi rombongan perwira militer Filipina yang berkunjung, kala itu, dipimpin oleh Kolonel (Inf.) Michael Glenn Manansala. Kunjungan ke BBrG bagian dari diplomasi budaya ASEAN yang difasilitasi oleh Brigade Infanteri 11/Badik Sakti, Kodim Takalar, dan Pemda Kabupaten Takalar, tahun 2024. Bagi Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, kunjungan tersebut untuk memperkuat ikatan antar-negara tetangga, melalui warisan bersama dan saling menghormati.

Situs Tungku Katoknokang

Galesong Selatan punya situs bersejarah dan cagar budaya yang menyimpan banyak cerita. Salah satunya Tungku Katoknokang atau pappalluang. Situs ini disebut-sebut sebagai bukti sejarah maritim dan simbol diplomasi budaya antara Nusantara, khususnya Galesong, dengan dunia internasional, terutama Marege (Aborigin) di benua Australia. Letak situs yang berusia ratusan tahun itu berada di Desa Bontokanang, berjarak sekira 6 km dari BBrG.

“Saya lahir di sekitar daerah itu, mungkin hanya 300-an meter dari situs tungku itu. Anehnya, yang memperkenalkan saya ke tempat itu justru orang Amerika. Saat ada kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan, saya diundang sebagai narasumber,” ungkap Prof. Aminuddin Salle, yang membuat kami tersenyum.

BACA JUGA:  ABK TUNAGRAHITA DAN MATERI MENGENAL HURUF HIJAIYAH FASE “A” DALAM KURIKULUM MERDEKA

Orang Amerika Serikat yang dimaksud Karaeng Patoto, adalah Wayne A. Bougas Daeng Rate. Foto pria bule jangkung itu bisa dilihat di akun Instagram Balla Barakka. Wayne datang ke BBrG, pada 2 Oktober 2019, untuk berbagi cerita dan bernostalgia 47 tahun bersama keluarga Galesong.

Prof. Aminuddin Salle dan Abdul Jalil lalu bercerita tentang tungku tersebut. Sekarang, katanya, sudah jadi situs nasional. Dahulu, sungai di situ bagus sekali. Kapal-kapal bisa masuk membawa teripang dari Australia ke Katiknokang (lalu berubah namanya menjadi Katoknokang). Bila ada teripang dari Australia, maka akan direbus atau diolah di situ, setelah matang baru diekspor ke China. Sayangnya, setelah jadi desa, dikasi nama Desa Bontokanang. Tentu saja, pergantian nama ini dipertanyakan.

“Saya bilang, siapa yang ganti namanya? Biar Katiknokang saja, karena itu ada historisnya, yang menggambarkan hubungan Makassar, khususnya Galesong dengan Australia. Ini merupakan hubungan antar-negara, kala itu,” ujar Prof. Aminuddin Salle dengan nada heran.