“Suatu ketika, di antara mereka yang punya tanah bertengkar, memperebutkan tanah warisan orangtuanya. Ketika saya dengar, saya panggil. Saya bilang, bagaimana kalau saya beli ini tanah, lalu kalian bagi-bagi. Berhenti maki bertengkar. Alhamdulillah, sekarang ada masjid, sebagai penanda dan pengingat,” cerita Karaeng Patoto.
Ketika membagikan kisah pendirian masjidnya, beliau menyelipkan sebuah dialog yang penuh makna. Bahkan kalimatnya diulang pelan-pelan, agar kami mencamkannya. Bahwa ada konsekuensi dari setiap kebijakan dan sikap tegas yang diambil, termasuk bila itu dilakukan penguasa.
_“Nasabak punna ballomo nilakleang, tenamo tubarani. Napunna kabotorangamo nitongkok, tenamo sima. Punna akjinamo nipassalese, tena maki antu akkoasa.”_
Beliau mengapresiasi semangat orang-orang yang dengan murah hati dan tulus berdonasi. Kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai pihak sedemikian besar, dalam pembangunan masjid.
Begitu peletakan batu pertama, kata beliau, langsung masuk sumbangan. Peletakan batu pertama Masjid Al-Amin BBrG, dilakukan oleh Bupati Takalar, Syamsari Kitta, pada 1 Juli 2018. Hanya dalam rentang lebih setahun, masjid pun diresmikan, tepat pada 27 Oktober 2019, juga oleh Syamsari Kitta. Acara peresmian bersamaan dengan kunjungan Bupati Takalar, saat kegiatan Gema Tasamara Camp 2019.
Kawasan BBrG ini, memang dipersiapkan oleh Karaeng Patoto sebagai lokasi pengembangan dan pelestarian adat, budaya, nilai-nilai konstitusi dalam falsafah dan kearifan kultural Makassar, serta seni dan aksara Lontarak Mangkasarak. Apa yang dilakukan Karaeng Patoto telah ditulis dan didokumentasikan dalam buku berjudul Aminuddin Salle: Sang Pelestari Aksara, karya Abdul Jalil Mattewakkang, S,Pd, MH, MM, Muhammad Iqramsyah Djalil, dan Muhammad Asmin Rahman, terbit tahun 2023.
Terkait pembelajaran aksara Lontarak Mangkarak ini, Karaeng Patoto punya pendekatan tersendiri. Beliau mewajibkan mereka yang berkunjung di BBrQ menuliskan namanya dalam aksara Lontarak Mangkasarak, sebelum meninggalkan lokasi. Ini misalnya, pernah dialami mahasiswa asal Malaysia yang sedang studi di Universitas Hasanuddin, saat mahasiswa asal negeri jiran itu diajak ke Balla Barakka. Begitupun dengan tentara Filipina, dan Direktur Pariwisata Kemenpar-Ekraf RI, diwajibkan menuliskan namanya dalam aksara Mangkasarak, sebelum meninggalkan tempat.
Delegasi rombongan perwira militer Filipina yang berkunjung, kala itu, dipimpin oleh Kolonel (Inf.) Michael Glenn Manansala. Kunjungan ke BBrG bagian dari diplomasi budaya ASEAN yang difasilitasi oleh Brigade Infanteri 11/Badik Sakti, Kodim Takalar, dan Pemda Kabupaten Takalar, tahun 2024. Bagi Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, kunjungan tersebut untuk memperkuat ikatan antar-negara tetangga, melalui warisan bersama dan saling menghormati.

br
br






br





